Search

Teaching Farm, Program Kolaborasi Untuk tingkatkan Kualitas Bibit Kakao


Padang,- Pada tahun 2010 Indonesia duduki posisi ke tiga pengekspor kakao terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Dengan kondisi tersebut membuktikan bahwa kakao alias kopi coklat sebutan petani lokal di Ranah Minang mempunyai peran cukup penting dalam peningkatan perekonomian. 

Namun saat ini posisi Indonesia turun ke urutan ke 6 pengekspor kakao terbesar dunia. Hal ini disebabkan turunnya produksi kakao di negeri ini setiap tahun. 

Banyak permasalahan dalam pembudidayaan kakao yang ditemukan dilapangan seperti penggunaan bibit yang kurang berkualitas, kesalahan teknik budidadaya serta serangan hama dan penyakit. Permasalahan ini tentunya akan menyerap biaya yang banyak dalam penanggulangannya, bahkan tanaman yang dibudidayakan akan mati jika tidak ditangani dengan baik. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan tindakan preventif atau pencegahan dari sejak dini dengan pemberian induksi imunitas sejak tahap pembibitan. 

Induksi imunitas merupakan suatu mekanisme aktivasi ketahanan tanaman terhadap patogen menggunakan metode elisitasi. Induksi imunitas ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan Rhizobacteria, Fungi Mikoriza arbuscular, cendawan Entomopatogen serta penggunaan pestisida nabati. Pemanfaatan induksi imunitas tanaman ini sangat potensial sebagai tindakan dini yang ramah lingkungan untuk pertanian berkelanjutan. Prosesnya dimulai semenjak persiapan bibit sampai bibit disalurkan dengan harapan bibit sudah memiliki imunitas yang bagus ketika ditanam dilapangan. 

Mengingat hal tersebut, sangat tepat jika langkah ini dijadikan solusi dan inovasi bagi penyedia bibit kakao. Petani maupun penyedia bibit kakao diharapkan mampu untuk memahami dan melakukan kegiatan preventif ini, harapannya dengan penerapan inovasi ini mampu membantu meningkatkan kualitas bibit kakao serta mampu mendukung pertanian berkelanjutan yang sudah menjadi sebuah trend masa kini seiring semakin berkembangnya kesadaran masyarakat dunia terhadap pangan yang less input dan/atau pangan organik.

Berdasarkan hal diatas, maka perlu melakukan pembibitan kakao yang berkualitas dengan pemanfaatan agen penginduksi imunitas kepada kelompok tani.

Fakultas Pertanian Unand Padang bersama dinas pertanian Kota Padang membuat terobosan baru dalam menghasilkan bibit kakao yang berkualitas. Taching Fam nama program hasil kolaborasi Dinas Pertanian Kota Padang dengan Fakultas Pertanian Universitas Andalas, pihak industri dan Kemendikbudristek Republik Indonesia. Teaching Farm sendiri merupakan sarana pembelajaran berupa unit produksi yang didesain khusus sesuai dengan proses produksi industri. 

Konsep teaching farm merupakan kombinasi antara pelaku bisnis dan akademisi karena memberikan tempat bagi keduanya untuk berkolaborasi, penggabungan antara pendidikan/kampus dan industri dengan penerapan pendidikan, riset dan inovasi yang berlandaskan ilmu pengetahuan. Tujuan dari kegiatan ini ialah untuk mensosialisasikan teaching farm pembibitan kakao sebagai salah satu solusi menyelesaikan permasalahan petani dalam mempersiapkan bibit kakao yang berkualitas tinggi dan berkelanjutan.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini telah dilaksanakan di Dinas Pertanian Kota Padang, yang beralamat di Jl. Raya Sei Lareh, Lubuk Minturun, Kec. Koto Tangah, Kota Padang. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan agar kelompok tani kakao memiliki referensi baru dan tambahan ilmu terkait kebermanfaatan agen penginduksi pada  pembibitan kakao serta proses yang dilakukan. 

Selain menyampaikan materi terkait pembibitan kakao, agen hayati, serta pestisida nabati tim pengabdian kepada masyarakat juga membagikan kuisioner untuk menilai kebermanfaatan kegiatan dan pemahaman anggota kelompok tani. anggota kelompok tani kakao sebagian besar belum mengetahui perihal teaching farm (96%), namun sudah paham - sangat paham mengenai bibit kakao yang unggul. Sebesar 65% peserta belum mengetahui mengenai agen hayati yang akan digunakan sebagai penginduksi, serta 96% peserta sudah mengetahui perihal pestisida nabati. 

Dengan adanya kegiatan sosialisasi ini, petani memperoleh ilmu baru tentang teaching farm pembibitan kakao dan induksi agen ketahanan pada bibit kakao sehingga anggota kelompok tani sudah memahami dan tertarik untuk praktek penginduksian pada bibit kakaonya, kegiatan pengelolaan ini bisa difasilitasi oleh teaching farm pembibitanan kakao Universitas Andalas. 

Sebagian besar anggota kelompok tani belum pernah membuat pupuk hayati dan pestisida nabati (76%). Pada pertemuan selanjutnya direncanakan akan dilakukan praktek pembuatan pupuk hayati dan pestisida nabati, sehingga anggota kelompok tani lebih memahami dan bisa mengaplikasikan secara langsung serta juga bisa melihat pengaruh pupuk hayati dan pestisida nabati terhadap bibit kakao. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan kualitas dari bibit kakao dan mewujudkan pertanian berkelanjutan.