Headline

random

SEJARAH KECAMATAN KAPUR IX


Carito Luhak Nan Bungsu - Berawal dari pertemuan dengan seorang guru dari kapur IX , sebagai pengemar Carito Sejarah Luhak Nan Bungsu memintakan pula dibuatkan sejarah Kapur IX. Kecamatan Kapur IX adalah salah satu dari tiga belas kecamatan yang ada di bagian timur Kabupaten Limapuluh Kota. Luas wilayah Kecamatan Kapur IX 723,36 Km2 yang berarti 21,56 % dari luas Kabupaten Limapuluh Kota yang luasnya 3.354,30 Km2,yang terdiri dari 7(tujuh) buah nagari
Nagari terluas adalah Nagari Koto Lamo 188 Km2 (25,97 %),Nagari Sialang 183,36 Km2 (25,35 %),Nagari Galugua 128 Km2 (17,70 %),Nagari Koto Bangun 112 Km2 (15,48 %), Nagari Durian Tinggi 61 Km2 (8,43 %),Nagari Muaro Paiti 32 Km2 (4,42 %), dan Nagari Lubuak Alai 22 Km2 (2,63 %) dengan ibu kecamatan adalah Muaro Paiti yang terletak 88 Km dari Kota Payakumbuh dan 78 Km dari Kota Sarilamak.

Batas Kecamatan adalah sebagai berikut : Sebelah Utara dengan Propinsi Riau,Selatan Kecamatan Bukit Barisan dan Gunuang Omeh, Timur Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Barat Kabupaten Pasaman.

Topografi Kecamatan Kapur IX bervariasi antara datar,bergelombang dan berbukit-bukit dengan ketinggian dari permukaan laut terendah pada nagari Lubuak Alai ( 137m dpl) dan tertinggi puncak Bukit Sapan Kijang di Nagari Koto Lamo (720 m dpl). Kecamatan ini mempunyai Bukit diantaranya : B. Sangkar Puyuah, B.Batu Aguang, B.Rimbo Putus, B.Rimbo Pancuang,B. Sapan Kijang, B.Pandan, B. Rangau, B.Tadung, B.Batu Putiah,B.Alang Gadang, B.Kandang Lawan, B.Luncing, B.Lereng Bincang,B.Karsik Nambun,B. Koto Gilingan, B. Angau, B. Tapanggang,B. Bakar, B.Luncung, B.Pandam, B.Rimbo Sangkar,B. Batu Putiah, B.Malin, B.Balego, B.Patai,B. Tusam, B. Mangkudu, B.Batang Manau, B.Gong dan B.Ngalak.

Daratannya dialiri dengan banyak sungai besar dan kecilyang telah dimanfaatkan masyarakat untuk transportasi mempergunakan speed boat, sumber irigasi sawah , pencarian ikan dan sumber Galian C pasir dan kerekel . Nama –nama sungai tersebut adalah : Sungai Batang Kapua, Batang Sopan, Batang Gamuruah, Batang Mangan, Batang Karuah, Kapua Putiah, Kapua Ketek, Sungai Keluaran,Sungai Janiah, Batang Jolu, Batang Tialan,Batang Mongan, Batang Tiawan, Batang Gian dan Batang Dondan.

Jumlah penduduk Kecamatan Kapur IX adalah 28.948 jiwa dengan Sumber mata pencaharian penduduk adalah petani baik sebagai petani sawah maupun sebagai petani karet dan gambir dengan persentase 87 %, pedagang 10 % dan lainnya 3 % dari jumlah penduduk yang usianya produktif.
Kapur IX Menurut Tambo

Dalam Tambo disebutkan bahwa Kecamatan Kapur IX sekarang merupakan bagian Ranah dari Luak Limo Puluah dan merupakan wilayah Tengah dari Kampar Kanan. Yang dikatakan Kapur IX adalah : Koto Lamo, Lubuak Alai, Koto Bangun, Durian Tinggi, Sialang, Kapua, Pongkai, Gunuang Malelo, dan Tanjuang Muaro Takuih.

Sementara itu Galugua disebutkan dengan VI Koto Kampar yang terdiri dari dua bagian , pertama Galugua III Koto di Mudiak atau Galugua Ateh atau dinamakan juga Muaro Sungai Lolo. Kedua Galugua III Koto di hilia atau Galugua Bawah.

Adapun susunan pemerintahan Kampar menurut adat adalah Pemerintahan Bandaro yang disebut dengan andiko 44 , yang 40 jatuh ke Kampar dan yang empat jatuh ke Kapua IX, dan yang jatuh ke Kapur IX yaitu :
1) Dt. Rajo Balai di Muaro Takus sebagai Pucuk Andiko 44,
2) Dt. Sati di Gunuang Malelo sebagai Timbalan Pucuk Andiko,
3) Dt. Bandaro di Tanjuang sebagai Timbalan Pucuk Andiko dan Rajo Mahimpun di Muaro Takus sebagai manti pucuk andiko. Dan sebagai andiko lainnya adalah : Dt. Rajo Malelo di Muara Takus, Dt. Parabu di Pongkai, Dt. Majo di Gunuang Malelo, Dt. Bandaro Kayo di Sialang, Dt.Bandaro Kuniang di Muaro Paiti, Dt. Bandaro Hijau di Durian Tinggi, Dt. Bandaro Sati di Lolo Koto Lamo, Dt. Rajo di Galugua
Bandaro nan barampek disebut juga Si Bae Gondan Di Kapur nan Sambilan degan Andiko di Kapua Nan Sambilan:
Dt. Bandaro Sati di Nagari Muaro Lolo.( Koto Lamo ) yang bertugas memutus perkara.
Dt.Bandaro Hijau di Nagari ( Koto Gilingan) Durian Tinggi ( Dt. Bosa, Niniak) bertugas sebagai Neraco Adaik.
Dt.Bandaro Kuniang di Nagari Muaro Paeti atau niniak (sekarang Muara Peti) bertugas sebagai boreh gontang atau sebagai pemukul palu berdua dengan Dt. Bandaro Kayo di Nagari Koto Tuo Ateh (Sialang )

Kapur IX di Zaman Belanda
Dizaman Belanda Kapur IX dinamakan Kelarasan Kapua Nan Sembilan dan daerah (Landschap) Galugua III Koto di Hilia yang merupakan bagian dari Kecamatan Kampar Atas ,Kabupaten Limapuluh Kota dengan pusat pemerintahanya di Bangkinang dengan Kontroler : OP Besseling, Jaksa Royan Dt. Jamarif dan Ajung Jaksa adalah Majid Khatib Sampono dan Halat Sutan Marajo.
Setelah perobahan pembagian administrasi Sumatera Barat bulan Nopember 1914 maka Kecamatan Kapur IX bernama Onderdistrik Sialang (Kapur IX dan Galugua III Koto ), bagian dari Onderafdeling Pangkalan , Afdeling Limapuluh Kota dengan Assiten demangnya bernama Jamaluddin Dt. Indo Marajo berkedudukan di Sialang.

Kapur IX Zaman Kemerdekaan
Pada awal kemerdekaan wilayah Kecamatan Kapur IX merupakan bagian dari kewedanaan Bangkinang , Luhak Lima Puluh Kota. Setelah Agresi Belanda II berdasarkan intruksi Gubernur Militer Sumatera Tengah No. 10/GM/ST/ 49 tanggal 9 Nopember 1949, dan diresmikanlah Kabupaten Limapuluh Kota Pada Tangal 19 Desember 1949, maka Kecamatan Kapur IX merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Limapuluh Kota.

Nama-nama camat Kecamatan Kapur IX adalah :
Azhar Hamid (1949-1952), Gudang (1952-1953),Tengku Aladin (1953-1954), Tengku Saleh (1954-1955),Bagindo Amir (1955-1955), R. Dt. Boyok (1955-1957), Maran (1957-1960),Amran Zai (1960-1963), Naswar (1963-1964), Hatribal (1964-1967), Yusri,HI (1967-1968), Syahruddin, BA (1968-1969), Amasri,BA (1969-1972), Mahyudin Tamara BA (1972-1973),Muzahar Abdulah, BA (1973-1977), Yohanes Dahlan,BA (1977-1980), S.Dt.Rajo Sulaiman BA (1980-1983), Ruswan Abbas ,BA (1983-1985), Drs.Syafruddin Darab, BA (1985-1986), Drs. Mohammad Guntur (1986-1989) Karateker Drs. Syahmunir (1989-1990), Drs.Erminas (1990-1994), Drs. Don Adonis ( 1994-1996), Drs. Ridwan ( 1996-1998), Busman,BA (1998-2000), Musdar Darwis, Ba ( 2000- 2002) , Ir Wal Asri ( 2002-2004), Drs.Basnida Efrizal.M.Si (2004-2006), M.Ali Firdaus S.Sos (2006-2009), Drs.Ilyas(2009-2010), Yan Agusra.S.sos, M.Si (2010-2011), Elsiwa Fajri, S.STP (2011-2013), Septi Ilwendri,AP (2013-2014), Alfian S.STP.M.Si (2014-2016), Andri Yasmen S.Sos (2016 )

Nagari-Nagari Kapur IX
Nagari Muara Paiti
Dahulu nama daerah ini adalah batang kapur, berawal dari penduduk daerah ini mendapat peti maka dinamakan nagari ini dengan “Muaro Paiti”. Penduduknya berasal dari Batang Kapur (Riau) dan 4 orang sampai di Muaro Paiti yang dipimpin oleh Dt. Bandaro Kuniang).Titik Kordinat Kantor Wali Nagarinya adalah 00014’19,00”LS, 100039’18,4”BT dengan elevasi
136 dpl.

Ungkapan yang menghiasi seni kehidupan yang merupakan gambaran perilaku kehidupan masyarakat Nagari Muaro Paiti adalah “Muaro Paiti urang kayo, utang sapiak indak tabayie”
Nagari Lubuak Alai

Daerah ini berasal dari sebuah pertanyaan yaitu: “Lubuak A Lai?” karena di daerah ini terdapat banyak lubuak di sungai sehingga disebut juga Lubuak Alai. Penduduk aslinya berasal dari Maek.
Diceritakan bahwa nenek moyang orang Lubuk Alai berawal dari kedatangan dari Dt.Sori Marajo dan dt.Marajo dari Gunung Bongsu. Setelah menetap di Lubuak Alai rombongan mendapat serangan dari anak buah Dt. Bandaro dari Maek Aur Duri . Kemudian Dt. Bandaro menyuruh kemenakannya membangun pemukiman baru di Lubuak Alai.

Setelah daerah ini berkembang maka Dt.Bandaro dari Maek Aur Duri menyetujui permohonan dari kemenakannya untuk membangun soko dengan pusako sehingga disetujuilah oleh Dt.Bandaro dari Maek menguntiang baju dan memberikan kekuasaan kepada kemenakannya dengan gelar Dt. Basa sebagai pucuk adat di Nagari Lubuak Alai.

Ungkapan yang menghiasi seni kehidupan yang merupakan gambaran perilaku kehidupan masyarakat Nagari Lubuak Alai adalah “ Lubuak Alai urang panyalam, jalo tasangkuik di sentaknyo” .

Nagari Koto Lamo
Nagari yang pertama di Kec. Kapur IX pada awalnya terdiri dari empat koto, dari situlah nagari ini dijadikan sebutan Koto Lamo yang pada akhirnya ke empat koto tersebut menjadi satu nagari hingga sekarang tetap menjadi nama nagari Koto Lamo. Sedangkan asal penduduk nagari ini berasal dari Sungai Rimbang ,Suliki dan Mahek.

Pada Nagari Koto Lamo terdapat Situs Menhir Tanjung Bungo. Situs megalitik ini berada dilokasi pekarangan SD Jorong Tanjung Bungo yang merupakan batu nisan setinggi 1 m yang dibuatkan rumahnya dan diberi atap .Disekitarnya ditemukan juga situs megalitik lainnya yang kecil-kecil. Situs megalitik ini juga dianggap ‘kuburan keramat’ oleh masyarakat, yang dikenal dengan kuburan Dt. Itam Lidah

Situs Menhir Bukit Latonda , komplek Situs Menhir Bukit Latonda Berada di Jorong Koto Tuo. Dan ada salah satu menhir pada malam purnama mengeluarkan cahaya. Di lokasi menhir ini juga dipergunakan masyarakat untuk “batarak” atau menuntut ilmu kebatinan. Tempat ini dulu merupakan daerah perkampungan tertua di kenagarian Koto Lamo, dan sekarang ini tidak terawat lagi sehubungan pusat pemukiman masyarakat telah pindah ke pingir jalan raya, dan lokasi situs tersebut dinamankan sekarang dengan Koto Tingga.

Keberadaan Batu Basurek di Jorong Tanjuang Bungo Kenagarian Koto Lamo, Kecamatan Kapur IX adalah merupakan suatu bukti keberadaan aksara Minangkabau yang tertuang dalam tambo Pariangan Padang Panjang.

Dalam cerita tambo awal Nagari Koto Lamo dimana pada saat Muaro Takus bernama Koto Sijangkang, Batang Kampar bernama Sungai Ambun dan Batang Sinamar bernama Sungai Una yang pada saat itu dibangun pada awalnya perkampungan Nagari Koto Lamo di sekitar ditemukan Batu Basurek.

Dimana Kemudian Dt. Bandoro Sati dengan Dt. Bosa membuat perkampungan yang disebut dengan Koto Lamo, pada saat membuat Koto Lamo datanglah utusan dari Dt. Rajo Di Balai dari Muaro Takus untuk membuat pula suatu Nagari, yaitu Nagari Koto Tuo dengan Dt. Bosa dari Koto Tangah dan Dt. Bandaro Sati melihatnya perkampungan Koto Tuo berada di atas Gunung dan kemudian dibuat jalan untuk memudahkah menuju sungai Kapua ketek sehingga dibuat perkampungan yang diberi nama Lolo dengan pusat adatnya tetap di Koto Lamo.

Sejarah Nagari Koto Lamo dalam rentang yang panjang sampai masuknya Islam 680 M di Muaro Sabak , Batu Basurek ini merupakan tempat berziarah bagi masyarakat sehingga terjadi Singkirisme pemahaman Islam kuno dengan hindu maupun bundha sehingga Nagari Koto Lamo ditinggalkan.

Nagari Koto Bangun.
sungai Batang Kapur . Nenek moyangnya berawal tinggal disekitar Koto Gilingan , karena ada niat untuk mengembangkan pertanian maka nenek moyang turun menelusuri Batang Kapur dan terlihatlah ada daerah yang agak kering dan yang lainya adalah rawa-rawa dan kemudian nenek moyang membangun koto ditempat yang kering tersebut dan kemudian daerah tersebut dengan dengan “Koto Bangun”.

Orang tua Nagari disebut Datuak nan Ampek dari daerah Riau yang datang “Mamudiak” batang Kampar menuju kecamatan Kapur IX. Karena nagari Koto Bangun ini masih baru maka dipilih Datuak Pucuak Nagari yaitu “Datuak Bandaro”.

Nagari Durian Tinggi
Ada dua versi pengambilan dari nama Nagari Durian Tinggi. Versi pertama diambil dari nama nenek moyang yang pertama kali datang membangun Nagari Durian Tinggi.
Dikisahkan ada dua orang beradik kakak yang tertua bernama Dt.Biru dan Adiknya Dt.Doyan Tinggi. Dt.Biru dengan keturunannya sekarang bernama Dt.Jolang Mangkuto dengan meninggalkan pusaka,yaitu : Keris sakti,Aguang, dan Rimba Raya.

Sedangkan Dt.Doyan Tinggi dengan keturunannya sekarang adalah Dt.Rajo Mananti dengan meninggalkan 3 pusaka yaitu :sebatan yang dapat memutuskan akar kayu, tombak bintang beracun dan Sawah dan rimba perladangan.Nama Dt.Doyan Tinggi yang berubah menurut dialek masyarakat menjadi Durian Tinggi diambil menjadi Nama Nagari.

Versi kedua Nama Nagari diambil diambil dari nama pohon durian. Dahulu kala ada sebatang pohon durian yang sangat tinggi terletak di Jorong Bintungan Sati dekat dengan SD No. 04 tetapi sekarang sudah mati.

Pada Nagari Durian Tinggi terdapat Situs Tapak Candi Koto Gilingan. Situs ini berada di Bukit Koto Gilingan diatas sungai Kapua Gadang yang yang berupa undak tanah kepunyaan Dt. Palarangan dari tutua nan badanga dari nenak moyang dahulu bahwa disitu pernah akan di bangun candi.
Dan juga batuan menhir di Nagari Koto Tingga ditemukan juga tersebar disekitar perumahan penduduk diatas pasar Durian Tinggi yang sudah tidak dikenal dan dirawat lagi oleh masyarakat. Dikenagarian ini juga ditemukan menhir dengan motif puncak bunga teratai
Ungkapan yang menghiasi seni kehidupan yang merupakan gambaran perilaku kehidupan masyarakat Nagari Durian Tinggi adalah “ Durian Tinggi urang pamanjek, karambia randah di juluaknyo”.

Nagari Sialang
Nagari Sialang dahulunya terdapat lebah yang berada pada batu berda dalam nagari sialang. Batu yang tempat sarang lebah tersebut dekat dengan pemukiman penduduk .
Karena lebah ini sering diusik burung elang dan selalu membuat resah masyarakat kemudian pemukiman dipindahkan dari tempat tersebut, setelah penduduk tersebut pindah kemudian nama nagari diberinama dengan NAGARI SIALANG. Asal penduduk nagari ini berasal dari Muaro Takus (Riau) dan Koto Lamo.

Ungkapan yang menghiasi seni kehidupan yang merupakan gambaran perilaku kehidupan masyarakat Nagari Sialang adalah “ Sialang urang palabah, manisan satitiak indak manaruah”.
Nagari Galugua

Ada dua versi terhadap peristiwa pengambilan nama Galugua menjadi nama nagari. Versi Pertama , berasal dari suatu peristiwa dimana nenek moyang bersama anak rajo Rokan Propinsi Riau yang bernama aning menemukan tanaman yang sedang berbuah disebuah hutan, buah tersebut rasanya asam maka disebut “Asam Galugua’ dan dijadikan nama nagari GALUGUA.

Versi kedua dimana nenek moyang bernama Dt.Marajo mudik dari Niraco Sibiruang Riau mengunakan sebuah sampan dari kulit kabung,menyeberang batang kampar dan sesampainya di Ranah maka sampannya pecah dan daerah ini dinamakan Ranah Talangkuik Pacah, kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalan darat menuju ke Lubuak Langkuang.

Sementara ada ninik moyang yang datang dari Koto Kociak daerah Sungai Bincang Panyubarangan yaitu niniak nelok dan Dt.Besar. Semua nenek moyang bertemu di Ronah Lubuak Lakuang dan langsung berjalan bersama-sama, dalam perjalanan bertemu dengan sebuah pohon yang lebat buahnya, setelah dicoba untuk memakannya ternyata buahnya rasanya asam, maka sepakatkan menamakan batang pohon tersebut dengan asam galugua, dan kemudian menjadi nama nagari GALUGUA.

Potensi wilayah
Potensi wilayah yang dapat dikembangkan di Kecamatan Kapur IX yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat adalah: Di bidang Pertanian dengan luas Sawah 1.204 Ha yang terdiri 521 Ha beririgasi ½ teknis, 278 Ha irigasi sederhana dan 405 Ha tadah hujan. Produksi Padinya belum mampu untuk memenuhi konsumsi masyarakat di Kecamatan Kapur IX, peluang peningkatan produksi adalah melalui penanaman Padi Ladang. Potensi lain adalah peningkatan intensifikasi pemeliharaan ternak kerbau dari ternak lepas ke cara di kandangkan.

Sungainya yang banyak sangat berpotensi apabila benar-benar dikelola dengan baik untuk dikembangkan perikanan darat dengan pemeliharaan kolam air deras, keramba dan mina padi dan penagkapan ikan di perairan sungai .

Lahannya yang berbukit dan bergelombang merupakan potensi besar dalam penanaman gambir dimana masyarakatnya telah yang mempunyai lahan gambir seluas 7.321 Ha atau 40,58 % dari luas tanaman gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota ( 18.038 Ha) dengan perkiraan produksi 5.658 ton pertahun yang terdiri dari 4.589 Rumah Tangga atau (79 %) dari 5.810 RT di Kecamatan Kapur IX
Di bidang Pertambangan Kecamatan Kapur IX mempunyai potensi seperti : Tambang Batu Bara di Kenagarian Koto Lamo .Nagari Galugua mempunyai potensi Tambang Batu Bara dan Marmar. Sedangkan potensi Galian C yang terdiri dari pasir dan batu berukuran kerikil (Sirtukil) terdapat di Btang Air Paiti,Pambangan, Kapur nan kaciak, dan Kapur nan gadang , dan Tanah Liat di Kenagarian Lubuak Alai.

Di Bidang Pariwisata yang dapat dikembangkan dan perlu pengelolaan oleh anak nagari adalah : Di Kenagarian Lubuak Alai adalah Air terjun dan irigasi ,di kenagarian Koto Lamo Batu Lasuang, Situs kebudayaan Batu Basurek dan sebuah Prasasti batu keramat dan batu mejan milik suku melayu Dt. Bosa Di kenagarian Sialang ada Panorama Alam. Di Kenagarian Muaro Paiti terdapat Pemandian Air Panas. Di Nagari Durian tinggi terdapat Tapak Candi Koto Gilingan, sedangkan di kenagarian Galugua terdapat 3 lokasi tempat rekreasi yaitu; ngalau di tepi batang kampar, Batu kamunyi dan batu tungku.

Goa atau ngalao apabila dikelola dengan baik dapat sebagai peningkatan ekonomi melalu pemeliharaan burung walet; seperti di kenagarian Koto lamo ada 25 lokasi, di kenagaraian Sialang terdapat ngalau Langkuik, Di Muaro Paiti ada 1 lokasi, dan di Galugua ada 2 lokasi yakni ngalao Batu Rajo dan Langkuik Kolam.

Untuk memasarkan hasil bumi dan membeli keperluan umah tangga di Kecamatan Kapur IX pada masing-masing nagari mempunyai pasar nagari, Lubuak Alai Pasar Tipe A, Dinagari Koto Lamo ada 3 unit, yakni di jorong Tanjung Bungo stiap hari Rabu, Jorong Koto angah setiap hari Kamis, dan di jorong Koo Tuo setiap hari jumat, di Nagari Sialang ada 2 unit di jorong Ranah Bengkek dan di Sialang Ateh. Di nagari Muara Paiti pasar Tipe B, Pasar Durian Tinggi Type A dan di Galugua pasar Type A

Saiful Guci, 18 Nofember 2017
SEJARAH KECAMATAN KAPUR IX Reviewed by salingka luak on November 15, 2019 Rating: 5
All Rights Reserved by SalingkaLuak © 2018 - 2019
Powered By Blogger, Supported by Berita Sumbar dan Medianers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.