Sisi Positif dan Negatif Kecerdasan Buatan Dan Cara Menyikapinya
Penulis: Syafrizal Ambo
Tan Malaka Institute
kemajuan teknologi semakin hari semakin tinggi. Salah satu yang lagi trend saat ini yaitu penggunaan aplikasi kecerdasan buatan yang akrab di sebut AI (Artificial Intelegence). Juga ada yang namanya ChatGPT. Aplikasi ini merupakan pengembangan dari AI melalui OpenAI.
Aplikasi AI mudah diakses di google sering digunakan untuk membuat berbagai narasi dan editan foto sesuai perintah yang kita tulis di kolom AI.
Aplikasi kecerdasan buatan ini satu sisi sangat membantu dalam mengerjakan berbagai tugas, terutama dalam pengiritan waktu, biaya operasional dan mengolah data.
Namun AI juga juga memiliki sisi negatif. AI memiliki resiko halusinasi cukup tinggi. Tentu tidak bisa dipungkiri karena perintah dalam bentuk tulisan yang akan di proses oleh algoritma yang disetting melalui coding aplikasi tidak akan sama dengan dunia nyata. AI sering membuat informasi palsu atau fakta rekasaya ketika diberi perintah.
Narasi yang dimunculkan AI terasa kaku dan tidak memiliki sentuhan emosional kemanusian karena mengikuti sistem yang sudah diseting di coding aplikasi.
AI meniru bias, streotio atau prasangka yang ada. Juga AI tidak melakukan investigasi lapangan, wawancara langsung atau memahami budaya lokal
Dengan dua sisi hasil dari kecerdasan buatan akankah kita mengenyampingkan kemajuan teknologi? Tentu tidak. Kita bisa saja memakai AI untuk mempermudah dan mempercepat selesainya pekerjaan kita dengan tetap memeriksa dan merapikan ulang kembali narasi yang dihasilkan dari AI. Terutama saat kita membuat narasi berita, artikel atau tulisan tulisan yang akan dipublih di portal media, baik media sosial maupun media mainstream.
Intinya setiap hasil kerja yang dibuat dengan aplikasi kecerdasaan buatan butuh diteliti dan dirapikan ulang kembali sebelum di tayang agar sisi negatif yang biasa dimunculkan aplikai kecerdasaan buatan ini bisa diminimalisir.
"Bangsa Yang Kuat Adalah Bangsa Yang Menguasai teknologi (Tan Malaka)
