HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

MBG di Lima Puluh Kota Terkendala Minim Dapur Penyedia

Lima Puluh Kota --- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lima Puluh Kota belum terealisasi secara optimal. Kendala utama yang dihadapi hingga saat ini adalah masih terbatasnya jumlah dapur penyedia makanan bergizi yang menjadi tulang punggung pelaksanaan program tersebut.

Kepala Dinas Pangan Kabupaten Lima Puluh Kota, Yunire Yunirman, mengungkapkan bahwa dari total 43 dapur yang direncanakan, baru 13 dapur yang saat ini telah beroperasi. Dapur-dapur tersebut tersebar di beberapa kecamatan, yakni Harau, Lareh Sago Halaban, Guguak, Payakumbuh, Akabiluru, dan Kapur IX.

“Untuk kecamatan lainnya masih dalam tahap proses. Insyaallah pada tahun 2026 ini seluruh dapur yang direncanakan dapat terealisasi,” kata Yunire kepada media, Rabu (4/2).

Menurutnya, lambannya percepatan pembangunan dapur MBG tidak terlepas dari kondisi Badan Gizi Nasional (BGN) yang masih tergolong instansi baru. Sejumlah pembenahan internal serta penyesuaian sistem, termasuk penguatan koordinasi lintas sektor dengan pemerintah daerah, masih terus dilakukan.

“Di tahun ini BGN mulai mempercepat langkah dan mempererat komunikasi dengan pemerintah daerah. Kita optimis seluruh siswa sekolah di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat merasakan program MBG dalam tahun ini,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Lima Puluh Kota, Ahlul Badrito Resha, menyampaikan harapannya agar seluruh pihak terkait dapat mempercepat proses penyediaan dapur MBG. Ia menegaskan bahwa program ini merupakan bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan anak-anak usia sekolah.

“Program MBG ini sangat strategis untuk mendukung tumbuh kembang generasi muda. Pemerintah daerah tentu akan terus mendukung dan mendorong agar pelaksanaannya bisa berjalan merata di seluruh wilayah,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota berharap dengan rampungnya seluruh dapur MBG, manfaat program nasional tersebut dapat dirasakan secara menyeluruh dan berkelanjutan oleh para siswa di daerah itu. (Fajar Sitepu)