Search

Biodrying Set Diperkenalkan Di Limapuluh Kota, Solusi Sampah Di Daerah


Limapuluh Kota ,- Direktur CV. Permata Global Fefi Amelia bersama Direktur Comestoarra Bentarra Noesantara Arif Nurhidaya dan Kepala Laboratorium Udara Unand Fadjar Goembira mempresentasikan BIODRYING SET (Bioactivator and Bamboo Box) dalam kegiatan bimbingan teknis pengolahan sampah organik melalui metode teknologi olah sampah di sumbernya guna mewujudkan mahkota berlian dan upaya daerah dalam penurunan angka kemiskinan digelar di Hotel Mangkuto, Selasa (25/6).

Kegiatan ini dibuka oleh Ketua LKKS Kabupaten Limapuluh Kota Nevi Safaruddin didampingi Kepala Dinas Sosial Kabupaten Limapuluh Kota Indra Suriani. Peserta dalam kegiatan ini sebanyak kurang lebih 60 orang yang terdiri dari Ketua TP-PKK Nagari, kelompok bank sampah, Baznas, pimpinan LKS, kepala sekolah, dharmawanita, persit, bhayangkari, IAD Kejari, pimpinan perbankan, pimpinan BPJS ketenagakerjaan, serta pengusaha.

Ketua LKKS Kabupaten Limapuluh Kota Nevi Safaruddin dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada narasumber yang selalu menjadi inspirator bagi masyarakat dalam urusan membenahi lingkungan serta kepada peserta bimtek yang bersemangat untuk hadir pada kegiatan ini.

"Apalagi, saya paling salut dengan semangat direktur CV. Permata Global, Ibu Fefi Amelia yang sangat luar biasa. Di saat saya hampir pesimis dengan program pengolahan sampah yang tak kunjung berujung, namun semangat saya didongkrak kembali oleh Ibu Fefi," ujarnya.

Dalam paparannya, Direktur CV. Permata Global Fefi Amelia menerangkan kondisi sampah di daerah saat ini sulit di tangani. Penumpukan sampah di banyak tempat, sering dijumpai penumpukan sampah yang tidak tertangani dengan baik.  Sampah menumpuk di pinggir jalan, saluran air, lahan kosong, bahkan di area permukiman warga. 

"Hal ini dapat menimbulkan bau tidak sedap, pencemaran lingkungan, dan menjadi sumber penyakit. Pembuangan sampah sembarangan menjadi budaya yang masih menjadi kebiasaan sebagian masyarakat yang amat sulit dikendalikan," ujarnya.

Fefi menambahkan, dalam upaya mengurangi volume sampah organik dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih, telah dilakukan uji coba terhadap teknologi olah sampah di sumbernya (TOSS) menggunakan BIODRYING SET (Bioactivator and Bamboo Box). Hipotesis yang diajukan adalah bahwa teknologi ini dapat mengolah sampah organik secara efektif sehingga tidak menimbulkan bau dan tidak menarik kehadiran lalat. 

"Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan selama 6 minggu, dapat disimpulkan bahwa hipotesis tersebut terbukti benar. Penggunaan bioaktivator dan bamboo box dalam proses pengurangan sampah organik menunjukkan hasil yang sangat memuaskan," katanya.

Fefi menerangkan proses penyusutan yang efektif pada hari ke-7 pengamatan, sampah organik sudah diberi bio activator terlihat mengering dan berubah menjadi kompos yang gembur. Ini menunjukkan bahwa bioaktivator yang terdiri dari campuran buah nenas, ragi, air kelapa, dan molase berperan dengan baik dalam mempercepat proses dekomposisi sampah organik. Mikroorganisme pengurai yang terkandung di dalamnya berhasil menguraikan sampah organik menjadi kompos dalam waktu yang relatif singkat.

"Salah satu temuan yang menarik adalah bahwa selama proses percobaan, tidak ada bau menyengat yang tercium dari luar bamboo box. Pada hari ke-3, ketika kita memasukkan terlalu banyak sisa bahan makanan yang berminyak dan tinggi protein seperti sisa ikan dan gulai yang basi, namun bau tersebut tidak menyengat dan ketika di tambahkan penyiraman bio activator bau tersebut perlahan menghilang. Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan bamboo box dengan ventilasi dan Bio activator yang baik dan sesuai dengan jenis limbah yang kita masukkan dapat mencegah akumulasi gas-gas yang menyebabkan bau menyengat," tuturnya.

Fefi menegaskan temuan yang tidak kalah penting adalah bahwa selama 2 minggu pengamatan, beberapa kali box masih dihinggapi lalat dengan jumlah lalat sekitar 2-3 ekor, namun ketika di tambahkan penyemprotan bioaktivator lalat berangsur hilang, den setelah 3 minggu lalat sudah tidak ada. 

"Ini membuktikan bahwa setiap proses alami yang diharapkan berjalan dengan semestinya yaitu proses penyesuaian antar jenis sampah organik bamboo dan bioaktivator. Namun ketika didapati ada belatung pada sampah namun tidak ada lalat maka tidak usah khawatir karena tidak butuh waktu lama belatung akan mati. Gerakan belatung dalam mencari makan dapat membantu mencampur dan menggemburkan timbunan sampah organik, mempercepat proses dekomposisi," terangnya.

Pada akhir pengamatan, kata Fefi, kompos yang terbentuk memiliki kualitas yang baik. Kompos berwarna kehitaman dan tidak mengeluarkan bau sama sekali. Ini menunjukkan bahwa proses pengomposan berlangsung dengan sempurna dan menghasilkan kompos yang siap digunakan sebagai pupuk alami untuk menyuburkan tanaman.

Teknologi olah sampah di sumbernya (TOSS) yang dikembangan olah Comestoarra Bentarra Noesantara  dan UNAND dengan menggunakan BIODRYING SET (Bioactivator and Bamboo Box) merupakan solusi yang efektif dan ramah lingkungan dalam mengelola sampah organik. 

Teknologi ini tidak hanya mengurangi volume sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga menghasilkan kompos berkualitas yang dapat dimanfaatkan kembali untuk memupuk tanaman.

"Keberhasilan pengujian ini memberikan harapan untuk penerapan teknologi ini secara lebih luas dirumah tangga dan komunitas. Dengan menerapkan teknologi ini, kita dapat berkontribusi dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan mengurangi dampak negatif sampah organik terhadap lingkungan," pungkasnya. 

Untuk mensukseskan acara ini, Fefi Amelia dibantu oleh timnya yang diberi nama RPG ( Rangers Permata Global) (FS)