Search

Turun Kelapangan, Mahasiswa Keperawatan Unand Prioritaskan Keberlanjutan Komunitas



Oleh: Ira Mulya Sari, Ns., Sp.Kep.An.
(Dosen Keperawatan FKep Universitas Andalas)


Pendidikan tinggi saat ini tak hanya berfokus pada teori semata. Mahasiswa Keperawatan UNAND semakin aktif turun ke lapangan untuk memberikan kontribusi nyata dalam penanganan bencana. Baru-baru ini, kelompok mahasiswa yang sedang melakukan praktik keperawatan bencana pada program Profesi Ners Fakultas Keperawatan UNAND telah menunjukkan kepedulian mereka di Kecamatan Pauh, Kelurahan Lambung Bukit, khususnya di RW 1 dan RW 3.

Kegiatan mereka di wilayah ini akan berlangsung selama lima minggu, dimulai pada tanggal 16 Oktober hingga 19 November 2023. Proyek ini memiliki tahapan yang terorganisir dengan baik, yang melibatkan berbagai aspek penanganan bencana. Sehingga nanti diharapkannya akan terbentuk RW siaga bencana.

Mahasiswa yang terlibat dalam mitigasi di RW.1 adalah Wendo Darwis, S.Kep., Sudarmi Yenni, S.Kep., Sri Putri Kurnia, S.Kep., Refnisa Fadila, S.Kep., Tifa Ramadhani, S.Kep., Januar Ramadhan, S.Kep., Salsabila Gema Topani, S.Kep., Indah Ramadhani, S.Kep., Nila Afnita Sari, S.Kep., Nova Rini, S.Kep., dan Delvi Rosmita, S.Kep. Sedangkan   mahasiswa yang terlibat di RW.3 adalah Rio Laksmana, S.Kep., Faraz Arsya Dutai, S.Kep., Tisya Mutiara Rahmadini, S.Kep., Rifqa Luthfi Addistia, S.Kep., Miftahul Rohimah, S.Kep., Vina Reski Putri Zalmi, S.Kep., Wenni Mardiati, S.Kep., Feranita, S.Kep., Rahmadia Sari, S.Kep., Fitrawati, S.Kep., Yuli Mardiana, S.Kep., dan Mutiara Fitra, S.Kep.

Pada minggu pertama, mahasiswa akan berfokus pada tahap assessment atau evaluasi. Mereka akan melakukan survei terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat setempat, serta mengidentifikasi area yang paling rentan terhadap potensi bencana. Informasi yang diperoleh dari tahap ini akan menjadi landasan untuk melakukan sosialisasi perencanaan
proses mitigasi (pra bencana), tanggap darurat, dan pasca bencana melalui musyawarah masyarakat yang akan diharapkan juga akan dihadiri oleh aparat kelurahan dan perangkat RW,
Kecamatan, Toma, Karang taruna, Babinsa, Babinkamtibmas, Puskesmas, Masyarakat, Stakeholder (PMI, BPBD, BASARNAS, DinSos) dan jajaran pimpinan dari pihak kampus.

Setelah menyelesaikan tahap evaluasi, selama dua minggu berikutnya, mahasiswa akan fokus pada tahap mitigasi. Ini termasuk langkah-langkah seperti penyuluhan kepada masyarakat terutama pada kelompok rentan tentang tindakan pencegahan, mengadakan pelatihan pertolongan pertama, dan memastikan bahwa fasilitas kesehatan setempat siap menghadapi bencana.

Selama minggu keempat, tim ini akan bersiap untuk tanggap darurat. Mereka akan bekerja sama dengan pihak berwenang setempat untuk menyusun rencana tanggap darurat, serta melibatkan komunitas dalam simulasi latihan bencana. Tujuan dari tahap ini adalah untuk memastikan bahwa masyarakat sudah siap menghadapi bencana melalui simulasi latihan.

Pada minggu terakhir, tim mahasiswa akan berfokus pada persiapan musyawarah masyarakat sebagai rencana tindak lanjut serta penutupan kegiatan yang telah berlangsung selama 5 minggu.

Proyek ini bukan hanya memberikan bantuan praktis bagi masyarakat setempat dalam menghadapi potensi bencana, tetapi juga memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa keperawatan dalam merespons situasi darurat. Ini adalah contoh bagaimana pendidikan praktis dapat berdampak positif pada komunitas yang membutuhkan, sambil memberikan peluang berharga bagi para mahasiswa untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang tanggap bencana dan pemulihan pasca bencana.

Kita patut memberikan apresiasi dan dukungan penuh bagi upaya mahasiswa ini, serta berharap bahwa proyek ini akan memberikan manfaat yang signifikan bagi warga Pauh dan daerah sekitarnya. Semoga langkah-langkah mereka dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk ikut berperan aktif dalam penanganan bencana di seluruh Indonesia.