Search

Mengolah Sampah Pasar Menjadi Berkah

Penulis: Obel, S.P., M.P 

Salingkaluak.com,- Sampah seakan sudah menjadi masalah klasik di negeri ini. Terutama sampah hasil aktifitas manusia. Semakin hari urusan ini terus bertambah rumit seiring dengan pertambahan penduduk yang pesat. 

Kondisi tersebut menjadi permasalahan sepanjang waktu  diberbagai Negara termasuk Indonesia. Apalagi kota-kota besar di seantaro dunia. Tidak heran jika permasalahan sampah menjadi isu yang tidak ada ujung pangkal dalam penyelesaiannya. 

Sampah yang ada dan tidak tertangani dengan baik kerap mencemari lingkungan disekitarnya. Seperti halnya yang terjadi dipasar-pasar tradisional, tumpukan sampah dari sisa dagangan khususnya yang sayuran biasanya bertumpuk-tumpuk dan menimbulkan pemandangan yang tidak enak dilihat dan bau yang kurang sedap. 

Meskipun kerap dianggap sudah tidak berguna lagi, namun demikian, sampah-sampah tersebut sebenarnya masih bisa diolah menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat. Salah satunya adalah sampah sampah yang dihasilkan dari aktifitas di pasar tradisional. 

Jika berbicara tentang pasar tradisional, maka tidak akan terlepas dengan hiruk pikuk penjual dan pembeli yang menjadi salah satu penggerak sendi perekonomian masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Pasar tradisional sudah melekat dan berakar dengan budaya kita. Tidak heran jika aktivitas yang terjadi kerap kali menimbulkan catatan lain yang perlu ditangani dengan baik. Umumnya jenis sampah yang dihasilkan dapat dibagi atas dua jenis yaitu sampah basah yang terdiri dari sampah sayur-sayuran, buah-buahan, dan makanan yang busuk dan jenis sampah kering yang berupa kertas, kaleng dan plastik. Rata-rata volume sampah basah lebih banyak di bandingkan sampah kering yaitu mencakup 60 – 70% dari total volume sampah.

Sampah basah yang bersumber dari pasar merupakan bahan yang dapat dapat didaur ulang salah satunya menjadi pupuk kompos. Pada dasarnya pupuk kompos merupakan salah satu jenis pupuk organik yang sudah ada sejak lama dan sudah dipergunakan oleh nenek moyang kita dalam bercocok tanam. 

Pupuk kompos berasal dari  bahan-bahan organik yang sudah mengalami proses pelapukan karena terjadi interaksi antara mikroorganisme atau bakteri pembusuk yang bekerja di dalam bahan organik tersebut. Penggunaan kompos dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia, sehingga bisa menekan biaya produksi dan tentunya juga mengurangi pencemaran lingkungan serta menjaga kelestarian alam khususnya lahan pertanian.

Pengomposan bahan organic yang terjadi dialam biasanya berlangsung dalam jangka waktu yang lama sehingga untuk mempersingkat proses pengomposan tersebut dapat ditambahkan dengan dekomposer yang tersedia di pasaran seperti EM4, ataupun dibuat sendiri seperti MOL (Mikro Organisme Lokal), trichoderma dan lain-lain. Atmojo (2003) mengemukakan bahwa penambahan bahan organik tanah akan menyebabkan aktivitas dan populasi mikrobiologi dalam tanah meningkat, terutama yang berkaitan dengan dekomposisi dan mineralisasi.

Bahan yang digunakan yaitu sampah basah pasar berupa sayuran atau buahan busuk, EM4, gula merah 1 ons, air. Sedangkan alat yang digunakan yaitu parang, gembor, terpal hitam (bisa diganti dengan sejenisnya) 4 meter (sebagai penutup).

Prosedur kerja yang dilakukan yaitu mengumpulkan sampah-sampah sayuran atau buahan yang dibuang dipasar. Kemudian dicacah menjadi bagian yang lebih kecil (kurang lebih 5 cm). Membentangkan plastik hitam/terpal/sejenisnya kemudian tumpuk dan susun bahan dengan  ketebalan 10 -15 cm tergantung jumlah bahan yang tersedia. Melarutkan EM4 pada ember yang sdah berisi air dengan perbandingan 1 tutup botol : 5 liter air. 

Kemudian tambahkan gula merah. Lalu siramkan EM4 secukupnya, tambahkan pupuk kandang secara merata pada  setiap lapisan. Demikian seterusnya sampai bahan habis.Terakhir tutup kembali dengan plastik hitam lalu ikat dengan tali raffia atau diberi pemberat sebagai penahan plastic tidak terbuka oleh angina. Tambahkan air jika kompos terlalu kering secukupnya apabila kompos dalam keadaan kering. Kompos perlu dibalik setiap minggunya. Setelah 4 minggu kompos berada dalam tahap pematangan (seperti tanah) kemudian biarkan selama 1 minggu lagi untuk pematangan. Kompos yang sudah matang kemudian diayak dan dikemas