Search

Solusi Panceklik Pangan Saat El Nino Melanda



Oleh: Obel SP.MP

Kondisi ketidak normalan cuaca yang terjadi saat ini dikenal dengan istila El Nino. El Nino merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia sehingga memicu terjadinya kondisi kekeringan untuk wilayah Indonesia secara umum.

Akhir-akhir ini kita mengadapi kondisi cuaca yang begitu panas. Diamanpun dan siapapun merasakan hal yang sama. Panas menyengat dan teriknya matahari kita rasakan dari mulai terbit hingga nanti terbenam.  

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan persnya di laman website resmi BMKG menyampaikan bahwa Kondisi inilah yang terjadi saat sekarang ini dan diprediksi akan berlangsung hingga bulan Agustus 2023.

Pada satu sisi, el nino mampu memberikan manfaat langsung bagi nelayan-nelayan yang ada disepanjang pesisir Indonesia, namun, berdasarkan kebanyakan fakta menunjukan bahwa el nino memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan masyarakat Indonesia. El nino akan menyebabkan kemarau panjang, hal ini tentunya akan mengganggu berbagai sector. Salah satunya pada sector pertanian yang akan mengganggu segala bentuk aktivitas budidaya yang dapat mempengaruhi produksi tanaman yang diusahakan.

Terkait hal tersebut, seperti yang dilansir pada situs resmi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan kementerian Pertanian Indonesia tahun 2023, Berlangsungnya El nino beberapa pekan kedepan akan berpotensi mengganggu musim tanam dan mengubah pola cuaca yang biasanya terjadi. Perubahan ini dapat menyebabkan penundaan dalam penanaman tanaman, penurunan luas tanam, atau bahkan kegagalan panen. Untuk kondisi ini perlunya petani menyesuaikan jadwal tanam tanaman yang akan diusahakan terkait perubahan cuaca yang terjadi. 

Disamping itu, tanaman yang diusahakan juga berpotensi diserang oleh hama dan penyakit tertentu. Adanya perubahan kondisi cuaca dapat menciptakan lingkungan yang lebih menguntungkan bagi beberapa penyakit dan hama sehingga menyebabkan penyebaran yang lebih cepat dan lebih luas yang dapat merusak tanaman dan mengurangi hasil panen yang diperoleh. Selanjutnya juga dapat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas kualitas tanaman dan tentunya akan mempengaruhi ketidakstabilan produksi dan harga dipasaran.

Untuk itu, salah satu satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi atau menghadapi kondisi el nini adalah dengan memperkuat cadangan makanan pokok terutama beras karena kita Indonesia makanan pokonya notabene adalah beras atau nasi.  Meskipun El nino mempengaruhi cuaca, musim tanam dan ketersedian air, kita masih bisa melakukan budidaya dalam memenuhi kebutuhan meskipun tidak dalam skala yang luas. 

Bisa saja kita melakukan usaha bercocok tanam hanya memamnfaatkan pekarangan rumah. Seperti halnya bertanam padi dalam pot. Langkah ini dinilai cukup efektif untuk skala rumah tangga karena biaya dan pengerjaannya cukup praktis dibandingkan dengan budidaya normalnya. Untuk bertanam padi dalam pot bisa menggunakan metode SRI mengingat pada sistem ini kebutuhan air yang digunakan relative sedikit sehingga sangat relevan dengan kondisi El nino.  

Selain itu, berdasarkan hasil pengabdian kepada masyarakat dosen fakultas pertanian Universitas Andalas 2020, Nalwida Rozen, Obel, Nugraha Ramadhan, Aswaldi anwar dan Rachmad hersi menunjukkan hasil bahwa budidaya padi didalam pot diberikan hasil yang cukup bagus, dalam satu pot/ember dapat menghasilkan 80-100 anakan. Rata-rata satu pot/ember dapat menghasilkan 80 g gabah kering panen atau hasil ini setara dengan 5 kg beras.

Adanya inovasi ini diharapkan setiap keluarga mampu menekan kekurangan pangan selama menghadapi EL nino yang tentunya kondisi tersebut dapat meminimalisir  kemungkinan – kemungkinan yang terjadi jika dilakukan pada budidaya yang normal. Jika kita tidak mempersiapkan kebutuhan pangan ini tentunya akan mengalami paceklik pangan. 

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi, ada 50-60% peluang terjadinya El Nino di Indonesia pada fase kedua tahun 2023 ini yang  puncaknya diyakini berlangsung pada bulan Agustus. Untuk itu, masyakat harus bisa melakukan berbagai cara agar dapat bertahan dalam kondisi El Nino yang pastinya akan sangat memepngaruhi terjadinya gagal panen. Jika gagal panen, maka akan membuat kurangnya stok beras yang menyeluruh diberbagai daerah sehingga akan berujung pada meningkatnya harga dan berbagai persoalan lain akan bermunculan yang akan mengganggu kestabilan berbagai faktor kehidupan.