Salingka News

random

POLITIK CUBADAK KANTANG


Ciloteh Tanpa Suara- oleh Saiful Guci
Disebuah perkampungan tanaman di Bukik randah, semua tanaman hidup rukun dan damai yang dipimpin oleh tanaman yang paling tinggi yaitu Kelapa.
Kelapa di angkat sebagai pemimpin dan penduduk menamakannya “karambie” karena dia adalah tokoh di Bukikrandah dia selalu menjaga perkampungannya dari serangan angin kencang, panas yang terik hujan yang terlalu deras sehingga apapun tanaman yang tumbuh dibawahnya dapat tumbuh dengan subur. Tanaman yang mencoba menyainginya hanya sebatang pohon Cubadak di Bukik randah itu.

Tersiar kabar bahwa pada bulan April tahun depan orang akan mengadakan Pemilihan Olahan Tanaman Unggul (POTU). Di Bukikrandah juga melakukan rapat siapa tokoh yang takah sebagai wakil dari daerah mereka untuk mengikuti POTU. Dengan suara bulat terpilih buah dari pohon Kelapa sebagai wakil mereka untuk pemilihan langsung buah olahan tanaman unggul. Kelapa dinilai selama ini telah berjasa banyak kepada tanaman dibawahnya dan sepanjang hidup Kelapa telah dimanfaatkan mulai dari akar, batang, daun, sabut, tempurung dan sampai kepada lidinya.

Untuk menjadi wakil tanaman unggul dari Bukikrandah harus melalui serangkaian ujian, buah Kelapa harus dinilai “takah” apabila dapat sebagai tokoh pemersatu. Turunlah buah Kelapa dari batang yang paling tinggi, sampai ditanah ada yang disambut oleh batu keras , ada yang disambut tanah lumpur dan ada disambut oleh rerumputan .

Tidak beberapa lama sampai di tanah, ujian lanjutan datang yakni “sulo” besi keras mengupas sabutnya, batok kelapa di pukul dengan parang majal, terlihat daging buah bersih tebal pertanda banyak minyaknya. Kemudian daging buah di “pangur/ kukur ” dengan besi halus memang pedih dan sakit, tak lama kemudian diberi air panas untuk diperas. Buah ungul kelapa ini telah berganti nama dengan “santan” disinilah ujian untuk menjadi sebagai “tokoh dan takah” pemersatu kampung dilaksanakan di sebuah kuali.

Buah kelapa tua yang berubah nama menjadi “santan” mulailah sebagai tokoh pemersatu satu persatu datang, cabe, daun kunik, daun salam , serai dan berbagai rempah-rempah lainnya. Minyak Santan telah mulai keluar. Penduduk Bukikrandah telah sepakat bahwa untuk mewakili mereka pemilihan olahan tanaman unggul bulan April tahun depan adalah “KELAPA” tidak ada duanya karena dia telah mengabdi sepanjang hidupnya di Bukikrandah.

Namun ada suara protes dari anak muda yang baru pulang dari kota yang selama ini tidak dikenal dikampung itu . Dia mempertanyakan “ lai bagaram gulai tu ?”. Sebenarnya penduduk di Bukikrandah tidaklah mengenal “garam” karena garam bukanlah penduduk Bukikrandah. Namun cela yang tidak ada sangkut pautnya dengan buah kelapa ini menyebar kemana-mana, bahwa santan buah kelapa yang kita unggulkan tidak bagaram itu merupakan aib tak lamak santan bila tak disiram dengan garam. Hilanglah nama kelapa, hilanglah nama santan yang telah tabik minyak, setelah garam datang orang merubah nama dengan “gulai”.

Waktu pemilihan olahan tanaman unggul semakin dekat, gulai yang sedang terjerang dan telah berminyak semakin bergelora, maka tanaman “Cubadak” selama ini tidak pernah disebut namanya sebagai tokoh di Bukikrandah walaupun masyarakat hanya dapat melihat buahnya besar dan aromanya harum tampil memberanikan diri masuk kedalam kancah yang sedang bergelora.
Tanaman lain melupakan selama ini mereka menderita karena sering kena getah Cubadak. Tapi tokoh lain tak ada. Tanaman yang ada di Bukikrandah bersorak mulailah buah Cubadak di gadang gadangkan menjadi wakil mereka.

Tanaman cubadak dengan penuh percaya diri menyambutnya dengan segala daya apa yang ada di keluarkan mulai dari cimbaba diolah, buah muda diambil untuk kapangek yang masak di turunkan daunnya juga diambil untuk Kambing dan kemudian mulailah Cubadak menjadi buah bibir di kalangan mereka dengan perubahan nama “pangek cubadak”.

Pangek Cubadak bertahan berkampanye selama enam (6) bulan, irisnya yang dulu terlihat kuat dan besar-besar satu bulan tinggal lagi pemilihan telah mengecil dan lembek bentuk tak karuan dan menghitam. Dilihat kepada pohon asalnya juga begitu, batangnya telah menyedihkan tak ada buah yang terlihat lagi daunnya telah meranggas. Melihat kondisi tersebut waktu pemilihan hanya tinggal satu minggu lagi, penduduk tidak peduli lagi karena mereka telah mulai menyerah Cubadak tak dapat diharapkan mewakili buah olahan dari kampung mereka untuk mampu bersaing dengan buah olahan lain dalam Pemilihan Olahan Tanaman Unggul.

Dalam kondisi tersebut entah dari mana saja datang dan masuk ke kancah yang namanya “Kantang”. Penduduk Bukikrandah menyadari “kantang” bukan tanaman yang tumbuh di daerah mereka tetapi kantang terlihat kuat bulat dan bersih seperti dapat dipercaya.
Maka tanpa mereka sadari pada bulan April 2019 yang tampil dan mereka harus memilih dua tokoh yakni “ Cubadak atau Kantang”.

Setelah pemilihan rupanya yang menang adalah “kantang”.
Penduduk mulai menyesal. Dan kembali mendekati “karambie”untuk diambil manfaatnya. Cubadak namanya tak terdengar lagi, karena buahnya dari yang muda telah tak ada, kantang pun tak pernah datang karena dia tidak penduduk Bukikrandah.
Nasib Tokoh Karambie.

Disalin dari https://www.facebook.com/saiful.guci?ref=br_rs
POLITIK CUBADAK KANTANG Reviewed by salingka luak on Maret 29, 2018 Rating: 5
All Rights Reserved by Salingka Luak © 2018 - 2019
Powered By Blogger, Supported by Berita Sumbar dan Medianers

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.