Wako Payakumbuh Bidik Program Bantuan Rehabilitasi RTLH dari Kementerian Kesehatan
Padang,Salingkaluak.com, — Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta membidik program
bantuan rehabilitasi 8000 rumah tidak layak huni (RTLH) dari Kementerian
Kesehatan RI guna mempercepat penurunan angka tuberkulosis (TBC) di
Kota Payakumbuh.
Usulan tersebut disampaikan saat menghadiri
kuliah umum bersama Wakil Menteri Kesehatan RI di Aula Prof. Dr. M.
Syaaf, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Selasa (12/05/2026).
“Untuk
percepatan penurunan kasus TBC di Payakumbuh, kita minta 100 paket
perbaikan rumah tidak layak huni, karena sebagian besar kasus TBC ini
berawal dari kondisi rumah yang tidak layak,” kata Wako Zulmaeta.
Ia
menilai penanganan TBC tidak cukup hanya melalui layanan kesehatan,
tetapi juga membutuhkan intervensi terhadap kondisi lingkungan tempat
tinggal masyarakat.
Karena itu, lanjut Zulmaeta, Pemko Payakumbuh
mendorong program rehabilitasi rumah bagi penderita TBC yang berasal
dari keluarga kurang mampu, khususnya kelompok desil 1 hingga 4.
“Kita
ingin penderita TBC yang rumahnya tidak layak bisa mendapat bantuan
rehab rumah. Ini penting agar upaya penanganan TBC berjalan maksimal,”
ujarnya.
Karena, menurutnya, kategori Rumah yang Tidak Layak
Huni, selain ketidak pemenuhan terhadap struktur bangunan dan kecukupan
luas, juga tidak memenuhi terhadap aspek kesehatan, seperti pencahayaan,
sirkulasi udara serta faktor pencemar lainnya yang mempengaruhi
kesehatan penghuninya.
Wakil Menteri Kesehatan RI Benyamin Paulus
Octavianus mengapresiasi kehadiran kepala daerah, termasuk Zulmaeta,
dalam kuliah umum tersebut.
Ia menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia melalui penguatan sektor kesehatan dan pemenuhan gizi masyarakat.
“Bagaimana
menjadi bangsa yang unggul kalau SDM-nya lemah. Karena itu pemerintah
menjalankan program makan bergizi gratis, bantuan gizi untuk balita dan
ibu hamil, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga pembangunan rumah sakit
dengan fasilitas lengkap sampai ke daerah,” katanya.
Benyamin
juga meminta kepala daerah rutin turun ke lapangan untuk memastikan
kecukupan gizi masyarakat serta memantau langsung kondisi kesehatan
warga.
Menurut dia, keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah.
“Harapan kita kepala daerah rutin melakukan kontrol ke lapangan untuk memantau kecukupan gizi masyarakat,” ujarnya.
Ia
menyebut, hingga kini terdapat 25.037 penderita TBC di Sumatera Barat,
namun baru sekitar 62 persen yang berhasil teridentifikasi.
Kondisi itu dinilai berbahaya karena penderita yang belum ditemukan masih berpotensi menularkan penyakit kepada masyarakat lain.
“Kota
Payakumbuh ada 709 kasus TBC dan baru ditemukan sekitar 57 persen atau
404 orang. Nanti anggarannya akan kita berikan, karena pada umumnya
penderita TBC berasal dari keluarga tidak mampu,” katanya.
Menurut Benyamin, pemerintah pusat juga menyiapkan dukungan rehabilitasi rumah bagi penderita TBC dari kelompok ekonomi bawah.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi menyeluruh untuk memutus rantai penularan penyakit.
“Kita ingin kasus TBC ini segera tuntas dan masyarakat bisa terbebas dari TBC,” katanya.
Sementara
itu, Rektor Universitas Andalas menyebutkan kampus tersebut terus
berkontribusi melalui riset dan pengabdian kepada masyarakat, termasuk
memproduksi satu juta botol tinta Pemilu 2024 berbahan dasar gambir
hasil penelitian dosen.
“Fakultas Kedokteran Unand telah lebih
dulu berdiri sejak 1955 di Bukittinggi dengan tujuan melahirkan dokter
di tanah Sumatera. Sampai hari ini sudah ribuan dokter lahir dan
mengabdi di seluruh Indonesia hingga mancanegara,” katanya.
Ia
menambahkan, TBC masih menjadi tantangan besar kesehatan nasional karena
Indonesia termasuk negara dengan jumlah penderita TBC tertinggi di
dunia.
Karena itu, ia mendorong kolaborasi kuat antara
pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk mempercepat
pemberantasan penyakit tersebut.
“Misi kita membebaskan Sumbar
dan Indonesia dari TBC. Karena itu dibutuhkan dukungan semua pihak untuk
melengkapi fasilitas dan memperkuat penanganannya,” pungkasnya. (MC)
