Search

Dari Sjahrir sampai Kyai Dasuki



Para Kaum Sosialis : Dari Sjahrir sampai Kyai Dasuki
Oleh Anton DH Nugrahanto

Selain buku ‘The Future Games’ karya Teweles and Jones yang dalam sebulan ini belum selesai-selesai dibaca. Ada beberapa buku selingan yang sudah diselesaikan salah satunya adalah dua buku catatan tajuk Mochtar Lubis dan catatan harian Sutan Sjahrir. Dua buku ini sebenarnya buku terbitan lama. Sekedar catatan untuk catatan harian Sutan Sjahrir saya sering melihat dipajang di Gramedia Blok M sejak saya masih SMA awal tahun 90-an. Ada yang menarik tentang Sutan Sjahrir dan Mochtar Lubis. Yaitu sama-sama menginginkan manusia rasional, modern dan berpikiran maju di Indonesia. Namun berkiblat ke barat.

Catatan Harian Sutan Sjahrir
Awal saya mengenal Sutan Sjahrir justru dari tulisan Harry Poetze , dimana peran Djohan Sjahruzah (tokoh PSI, keponakan Sjahrir) sangat besar dalam mengenalkan alam pemikiran Sjahrir ke pada Poetze, namun di buku Poetze bagi saya sangat gersang jiwa

Sastra dari tulisan Poetze kurang hidup. Justru pada catatan harian Sjahrir ‘Renungan dan Perjuangan’ kita bisa mengenal sosok Sjahrir yang humanis. Tidak kering seperti Hatta, namun tidak juga berkobar bagai Sukarno. Membaca Sjahrir tentunya kita akan ingat tentang pamfletnya yang terkenal : “Perdjoangan Kita”. Pamflet “Perdjoangan Kita” ini bagi sebagian orang sebagai masterpiece-nya, dan ini sama saja dengan buku ‘Alam Pikiran Yunani’ dan artikel ‘Demokrasi Kita’ –nya Hatta, atau ‘Indonesia Menggugat-nya Sukarno. Pamflet ‘Perdjoangan kita’ mempunyai tiga isi pokok yang kemudian isinya ini sangat mempengaruhi sejarah negeri ini. Isi itu adalah :
1. Jangan sampai Indonesia merdeka jatuh ke tangan unsur-unsur radikal
2. Menghapuskan mentalitas fasis yang ditanamkan oleh Jepang
3. Memperoleh kepercayaan luar negeri.

Selain unsur yang ketiga yang merupakan sebuah strategi jangka pendek diplomasi RI. Dua unsur pertama dan kedua, merupakan tragedi dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Karena kedua unsur inilah yang menjadi mesin sejarah utama bangsa ini bergerak. Tarik menarik antara kekuatan radikal (Tan Malaka, TNI Masyarakat, PKI dua versi dan Islam Radikal), moderat (Unsur Sjahrir/PSI, Profesional ala Djuanda), karismatis (Sukarno) dan Tentara profesional (Ala Nasution, kemudian menjadi tentara tangsi ala Suharto) menjadi cerita sejarah paling utama di negeri ini, yang kemudian berpuncak pada tragedi pembantaian besar-besaran sepanjang 1965-1966.

 Matinya kemanusiaan di Indonesia karena pembantaian raksasa yang dilakukan militer dengan bantuan ormas pro Suharto terhadap kelompok PKI dan Sukarnois, kebetulan juga bersamaan dengan wafatnya Sjahrir di Swiss Sjahrir tanggal 9 April 1966. Di sekitar tanggal itu Sukarno bagai banteng ketaton pidato disana sini untuk mempertaruhkan jabatannya yang diam-diam sudah diserang kelompok Suharto. Di hari kematian Sjahrir, Sukarno langsung menganugerahkan gelar pahlawan nasional pada Sutan Sjahrir. Padahal sehari sebelumnya Sjahrir merupakan tawanan politik pemerintahan Sukarno. Apakah dengan ini kita ingat akan kasus HR Dharsono, yang di jaman Suharto mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata saja dilarang?

Humanisme Sjahrir bisa dibaca pada tulisan GM di bukunya ‘Setelah Revolusi Tak Ada Lagi’ yang saya kira GM banyak mengambil dari buku catatan harian Sutan Sjahrir ini. GM menulis di buku itu tentang Sjahrir pada hal. 31 dengan tajuk ‘Sjahrir di Pantai’. Tulisan ini sungguh manis untuk mengantarkan kita pada kisah catatan harian Sutan Sjahrir yang banyak ditulis ketika ia dibuang ke Banda Neira oleh pemerintahan Hindia Belanda setelah sebelumnya ia merasakan ganasnya Digoel. Begini kata-kata GM :

“Saya membayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, 1 Februari 1942. Kemarin tentara Jepang menyerbu Ambon dan beberapa jam sesudah itu bom dijatuhkan. Saya membayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, setelah sebuah pesawat MD-Catalina yang bisa mendarat di permukaan berputar-putar di sekitar pulau. Berisiknya membangunkan penduduk. Tak lama kemudian kapal terbang kecil itu pun berhenti di sebuah bagian pantai yang datar. Ko-pilot pesawat, seorang perwira Belanda yang kurus, turun ke tempat Sjahrir dan Hatta tinggal. Kedua tahanan politik itu harus meninggalkan pulau cepat-cepat, pesannya. Hanya ada waktu satu jam untuk bersiap.

Hatta mengepak buku-bukunya, tergopoh-gopoh, ke dalam 16 kotak. Sjahrir memutuskan untuk membawa ketiga anak angkatnya, meskipun salah satunya masih berusia tiga tahun. Sampai di dekat pesawat sebuah problem harus dipecahkan : Ruang di Catalina itu terbatas Enam belas kotak buku atau ketiga anak itu harus ditinggalkan. Hatta mengalah. Ketiga kotak buku itu tak jadi dibawa - untuk selama-lamanya – kecuali bos Atlas yang sempat disisipkan Hatta ke dalam kopor pakaian. Empat puluh tahun kemudian Hatta masih menyesali kehilangan itu.
(GM, Ketika Revolusi Tak Ada Lagi, Alvabet 2004)

Disini karakter Sjahrir terlihat sebagai pecinta kehidupan, pecinta keriangan masa kanak-kanak beda dengan Hatta yang kering, disiplin dan kaku. Sjahrir adalah jiwa yang hidup. Mungkin inilah yang menyamakan dirinya dengan Sukarno, tapi sekaligus melemparkannya ke dalam perbedaan yang tajam dengan Sukarno. Sepanjang sejarahnya Sjahrir adalah lawan politik Sukarno yang paling kuat dan berpengaruh.

Yang menarik dari catatan Sjahrir ini adalah pendapatnya tentang intelektualitas dan sastra, yang ditulisnya pada 20 April 1934 di penjara Cipinang. Satu baris kutipannya yang menarik adalah :
“Sebab itu pada hematku, kurang adanya kehidupan ilmiah dan minat yang sungguh-sungguh terhadap ilmu pengetahuan diantara kaum intelektual kita di Indonesia ini, bukan terutama disebabkan karena kita kurang mampu, kurang berkepribadian atau karena ada kekosongan moral, melainkan karena belum cukup ada perangsang-perangsang yang diperlukan di dalam masyarakat kita yang untuk sementara jauh lebih sederhana ini.

Bagi kebanyakan “pemegang-pemegang titel” di Indonesia – kupakai perkataan ini akan pengganti istilah “orang intelektual”, sebab di Indonesia ini ukuran orang bukan terutama pada terutama tingkat kehidupan intelektual, melainkan kehidupan sekolah –Ilmu pengetahuan itu tetap yang lahiriah saja dan bukan kekayaan batiniah. Bagi mereka ilmu pengetahuan tetap sebagai barang yang mati, bukan sesuatu hakekat yang hidup, yang berkembang dan senantiasa harus dipupuk dan dipelihara. Tetapi ini bukan salah mereka, terutama apabila mereka itu tidak mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan ilmu pengetahuan itu sebagai suatu pengertian yang hidup, yakni di Eropa sendiri”.

(cuplikan catatan harian Sjahrir, Renungan Dan Perjuangan hal. 5-6, Djambatan)
Sjahrir menulis problem intelektualitas itu tahun 1934 dan ini merupakan pemikiran masalah Indonesia yang jangkauannya jangka panjang. Bayangkan sampai detik ini (April 2008) ini saja problem intelektualitas belum sepenuhnya ‘genah’. Bahkan beberapa bulan lalu ada move dari Partai Demokrat dan Golkar untuk menjegal Megawati dengan menggunakan gelar sarjana sebagai ukuran kematangan intelektualitas.

Jelas ini akan menjadi tertawaan bagi Sjahrir seandainya Sjahrir berada dalam ruang sejarah sekarang. Intelektualitas adalah sesuatu yang hidup....begitu pikir Sjahrir, disini makna ‘hidup’ adalah kita terus mencari tahu terhadap pertanyaan-pertanyaan yang timbul. Sudah menjadi jamak bagi kita setelah selesai sekolah maka kita menutup buku selama-lamanya, enggan membaca apalagi studi sendiri. Kita kerap terjebak pada ukuran-ukuran gelar akademis, namun tidak mau menjebakkan diri pada pertanyaan-pertanyaan yang menajamkan intelektualitas. Pertanyaan-pertanyaan pada diri kita sendiri kemudian kita mencarinya dari studi-studi kita maka disitulah intelektualitas kita dilatih untuk hidup.

Tentang Sastra, Sjahrir juga mengungkapkan di hari yang sama 20 April 1934. Begini kutipannya :
“Lagipula aku tahu dari pengalamanku sendiri bahwa belajar dengan sungguh-sungguh bagi kita orang Indonesia di negeri Belanda tidak begitu gampang. Iklim dan masyarakat kita di negeri itu kadang-kadang amat mempengaruhi saraf kita. Hidup terkurung ke dalam tembok di dalam kamar-kamar yang pengap, suasana gelisah dalam pergaulan hidup, semua itu sangatlah besar pengaruhnya bagi jiwa kita, ada mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang berbakat yang gagal dalam studi mereka, semata-mata karena mereka tidak berdaya menghadapi semua itu; mereka memboroskan energi dalam kegelisahan itu sehingga jasmani pun menjadi rusak.

Kutunjukkan pada bahaya-bahaya itu kepada adikku dan kutegaskan pula bahwa belajar dengan cara yang baik, sekaligus membentuk watak kita, karena untuk belajar diperlukan pengekangan diri sendiri, disiplin diri sendiri. Kunasehati dia supaya memberikan dia supaya memberikan perhatian pada kehidupan kultural di Eropa, terutama kesusastraannya. Selain ia akan mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang kehidupan dan dunia pikiran barat, pun dengan demikian matanya akan terbuka terhadap masalah-masalah kehidupan yang ada disana; terhadap keanekaragaman dan kemuskilan hidup disana. Juga dengan demikian ia akan belajar kenal masalah-masalah sosial politik dengan cara yang lebih gampang dan menarik.

Kepada M kutulis pula surat untuk menolongnya dalam hal itu sedapat-dapatnya. Bahwa ia masih memerlukan bimbingan serupa itu, bukan suatu hal yang luar biasa : yang dapat disebut kaum intelektual di negeri kita, pada umumnya yang masih buta huruf dalam bidang ini. Mereka tidak membaca kecuali bacaan vak mereka sendiri, surat kabar dan kadang sedikit bacaan hiburan. Dalam seluruh perpustakaan H, misalnya terdapat hanya sebuah roman saja, dan tentang itupun dia memberikan penjelasan – seolah hendak membersihkan diri – bahwa itu dihadiahkan orang kepadanya. Padahal tak disangkal ia termasuk puncak golongan intelektual kita yang dididik di Eropa.

Hal ini sesungguhnya sudah menggambarkan pula keadaan kesusastraan kita. Sebenarnya boleh dikatakan bahwa belum ada orang intelektual yang menulis dalam arti yang sebenarnya di negeri kita ini. Tidak ada kesusastraan, baik dalam bahasa Melayu maupun dalam satu bahasa daerah yang banyak itu.

Tentu saja ada juga orang menulis malahan tidak sedikit jumlahnya. Ada suatu lembaga yang bernama Instituut voor de Volksclectuur (kemudian bernama Balai Pustaka) yang menerbitkan buku-buku rakyat banyak, kebanyakan terjemahan. Ada juga tulisan-tulisan asli, tapi belum bisa dimasukkan ke dalam kategori kesusastraan. Kita baru sampai pada menulis cerita-cerita. Di Indonesia – tentu ada juga beberapa kekecualian – orang pada umumnya tidak tahu tentang adanya suatu kesusastraan Eropa, suatu kesusasstraan dunia, jadi orang pun tidak mempelajarinya.

Sebab itulah umpamanya usaha-usaha bebeberapa orang nasionalis muda untuk menulis karya sastra –meskipun usaha itu diproklamirkan sebagai renaissance, kebangkitan kembali pada saat ini ternyata belum cukup bermutu untuk bisa menarik perhatian. Tingkatannya terlalu masih rendah untuk itu; bahkan didalamnya boleh dikatakan tidak ada pemikiran, tidak ada bentuk, tidak ada nada, dan yang paling parah tidak ada kesungguhan dan kejujuran yang cukup. Yang ada hanya pekerjaan bikinan yang tidak bermutu, yang dipropagandakan dengan banyak reklame.

Padahal tanpa kesusastraan roman, juga tidak ada ungkapan-ungkapan tentang masalah hidup, dan oleh karena itu pula kurang ada pengetahuan tentang peri kehidupan. Seorang keluaran HBS (Hogere Burger School, SMA- Anton) anak muda berumur 17-18 tahun di Eropa, kadang-kadang tahu lebih banyak tentang kehidupan daripada banyak orang intelektual, mahasiswa atau mereka yang sudah tamat sekolah, di negeri kita.

(cuplikan catatan harian Sjahrir, Renungan Dan Perjuangan hal. 6-7, Djambatan)
Disini saya bisa melihat kesadaran intelektual Sjahrir yang mampu menghubungkan segala bentuk dimensi pemikiran dan ilmu pengetahuan untuk dijadikan rangkaian-rangkaian yang memperluas pemahaman manusia. Banyak dari kita yang merasa sudah ahli dalam satu bidang, malah tidak peduli dengan bidang yang lain. Bahkan sering dialami seorang anak kecil dilarang orang tuanya untuk membaca novel atau komik atau karya sastra yang dianggap buang-buang waktu dan hanya disuruh belajar Matematika saja atau ilmu pengetahuan lain yang sifatnya lebih eksak. Padahal sastra dan musik memiliki rangsangan intelektual seseorang.

Orang yang mampu mencerna bacaan-bacaan sastra dengan baik dan mampu meng-imajinasikan di dalam kepalanya, lebih mampu berpikir abstrak dan menggabung-gabungkan berbagai peristiwa dengan cara yang indah. Hingga pemahaman dunia tidak melulu hanya satu dimensi saja. Bacaan-bacaan sastra akan merangsang imajinasi seseorang, sehingga bila ia belajar sesuatu maka akan lebih efektif bila menggabungkan imajinasi dengan logika yang digampang dimengerti. Disinilah Sjahrir memberikan benih-benih kesadaran betapa pentingnya sastra dalam kehidupan intelektual seseorang.

Saya sendiri adalah orang yang sangat yakin bahwa jaman bisa dibaca melalui sastranya ketimbang dengan penelitian fakta-fakta yang cenderung kering. Karena dengan sastra kita bisa segera menangkap zeitgeist (semangat jaman) dari sebuah era. Dalam hal ini saya tidak sependapat dengan Mochtar Lubis yang menolak bahwa karya sastra tidak bisa dijadikan rujukan sejarah.

Saya bisa menangkap pesan-pesan perang kemerdekaan justru ketika saya membaca cerita ‘Hujan Kepagian’ karangan Nugroho Notosusanto atau ‘Bukan Pasar Malam’ karangan Pram. Saya bisa menangkap pesan gemuruh kebingungan manusia Indonesia terhadap arus Orde Baru justru dari tulisan-tulisan GM ketimbang saya harus membaca bacaan kering tentang ‘akselerasi pembangunan 25 tahun karya Ali Moertopo’.Dan pesan-pesan kegelisahan pembangunan bisa digambarkan lewat kutang-kutang yang berkibaran pada bait-bait puisi WS Rendra ketimbang saya harus membaca jurnal statistik keluaran BPS.

 Betapa indahnya melihat kehidupan Jakarta dari anekdot-anekdot yang diceritakan pada catatan Pram tentang kehidupan rakyat kecil di gang-gang Jakarta yang kumuh dan becek. Betapa romantisnya bayangan di dalam kepala membayangkan kisah revolusi Perancis dengan membaca ‘The Tale of Two Cities’ atau membaca ketersingkiran kaum tertinggal terhadap gemuruh kapitalisme yang berselingkuh dengan kekuasaan lewat buku ‘Laskar Pelangi’ karya Andrea Hirata.
Sjahrir adalah manusia Sosialis yang kemudian memenangkan revolusi kemerdekaannya. Era 1945-1949 adalah era Sjahrir bukan kelompok Sosialis Garis Keras seperti Tan Malaka atau Musso. Disini Sukarno memilih Sjahrir karena pertimbangan praktis saja. Sukarno membutuhkan diplomasi Amerika Serikat melalui Sjahrir untuk menekan Belanda walaupun bayarannya teramat mahal. Peristiwa Madiun 1948.

Sjahrir yang seluruh energinya memperjuangkan perlawanan anti fasisme, ironisnya beliau meninggal ketika sebuah era Fasisme di Indonesia mendapat fajar baru. Apakah ini pertanda? Apakah ini merupakan isyarat? Kematian intelektual besar yang sangat membenci fasisme dimana tahun kematiannya menjadi era dimulainya fasisme ala anak tangsi PETA menghujam Indonesia. Suharto menjadikan Indonesia ladang percobaan neo fasisme dengan menerapkan sistem feodalisme yang rumit dan dengan ini mencoba memodernisir Indonesia. Dan hasilnya adalah sebuah kegagalan besar!

Dan ironisnya lagi Mochtar Lubis, wartawan yang dekat dengan kultur Sjahrir begitu memuja Suharto sampai peristiwa pembakaran Pasar Senen, Malari 1974. Adalah irasionalitas ala Jawa dan kharismatis feodal yang tidak begitu dipahami oleh Mochtar Lubis terhadap figur Sukarno yang menjadikan dia begitu membenci Sukarno, setidak-tidaknya lewat tulisan-tulisannya terutama di Tajuk-Tajuk Harian Indonesia Raya.

Namun walaupun Mochtar Lubis dalam tajuk ini banyak mengucapkan pujian pada Suharto dan melemparkan sesuatu yang buruk pada Sukarno, tulisan Mochtar Lubis bisa dijadikan rujukan penting tentang bermulanya korupsi-korupsi dalam skala raksasa terjadi di Indonesia.

Membaca tulisan Mochtar Lubis sesungguhnya seperti membaca sebuah kisah dimana seseorang manusia seperti Suharto menganggap dirinya mampu memberi makan rakyat dengan hanya mengandalkan konsep represif yang tingkat kekejiannya melampaui penjajah dan tragisnya konsep itu kemudian menjadi alat paling efektif dalam membodohi manusia Indonesia.

 Kesadaran Orde Baru adalah kesadaran semu tentang kepemilikan kapital yang sifatnya melawan arus terhadap kesadaran kemerdekaan sesuai dengan visi para founding fathers. Orde Baru tidak lebih daripada konsepsi dari Colijn (Menteri urusan Jajahan yang terkenal keras terhadap kaum pergerakan) yang diperbaharui – Orde Baru adalah pengejewantahan Colijnisme yang sedikit banyak bercampur dengan pengaruh Mussert (Tokoh Belanda yang pro Nazi dan fasis). Namun sayangnya konsepsi murahan Orde Baru kini mulai pelan-pelan menjadi bahan rujukan kembali untuk membangun bangsa ini setelah melihat demokrasi yang gagap ala pemerintahan Reformasi 1999.

Maka untuk melihat akar-akar kesalahan Orde Baru justru lewat buku kumpulan tulisan Mochtar Lubis sesungguhnya kita bisa melihat bagaimana Orde Baru yang awalnya adalah Monsterverbond (persekutuan jahat) dalam menjatuhkan Sukarno kemudian menjadi sebuah pemerintahan yang amat totaliter dan korup. Kita dapat membaca akar kesalahan Orde Baru justru dari penulis yang memang mendukung sepenuh hati terhadap Orde Baru, Mochtar Lubis...Di awal mulanya.

Hampir seluruh sejarawan sepakat (baik yang netral, aliran kiri dan pro Orde Baru) awal mula perseteruan Indonesia dengan kekuatan barat adalah munculnya kemauan Sukarno yang keras untuk menjadikan Indonesia independen. Sesuai dengan sifat Sukarno yang cenderung memanfaatkan percaturan politik Internasional di jaman Jepang, Sukarno dengan cerdik memanfaatkan kekuatan militer Jepang untuk memegang jabatan paling penting bagi pribumi.

Masuknya Sukarno ke dalam struktur kekuasaan militer Jepang ini tentunya menghalangi ruang gerak kaum Komunis yang lolos dari penangkapan besar-besaran 1927 dan menguasai pucuk pimpinan bukan dari unsur birokrasi kolot juga bukan golongan agama, yang pada jaman Jepang cenderung mendapat angin (berdirinya Masyumi pada masa Jepang untuk menjinakkan kaum muslim radikal dan ini sangat berhasil kecuali gerakan-gerakan tarekat yang melakukan perlawanan sporadis). Setelah kekalahan Jepang, Sukarno dengan cerdik membuka jalan untuk kelompok Sjahrir masuk.

Geng Sjahrir-Hatta memiliki jaringan kepercayaan ke negara-negara barat hal inilah yang ditolak Tan Malaka dengan menghendaki kemerdekaan 100% dan bekerjasama dengan militer PETA namun pada tahun 1949 kekuatan unsur PETA sepenuhnya berhasil dijinakkan kelompok KNIL dibawah Nasution-Simatupang dimana kebijakan politiknya sepenuhnya mendukung kelompok realistis (Hatta dan lingkaran Sjahrir). Bahkan akhir babak dari perang kemerdekaan yang heroik itu adalah antiklimaks dengan terbunuhnya Tan Malaka. Matinya Tan Malaka dan hancurnya kesepakatan kaum kiri di Madiun dalam kerangka Front Demokrasi Rakyat. Tanpa sengaja kematian Tan Malaka merupakan belokan amat penting dalam sejarah bangsa Indonesia.

Tan Malaka-lah yang pada mulanya mengucapkan sebuah konsepsi politik yang pada saat itu dipegang penuh oleh para perwira militer dari kubu PETA. Merdeka 100%. Pemikiran Tan Malaka ini bukan saja merupakan pemikiran yang serta merta tumbuh dalam gejolak kemerdekaan, tapi pemikiran ini adalah buah hasil cucuran keringatnya bermandi peluh di perpustakaan nasional dan renungannya di sebuah gang becek di Cililitan sana. Memang dalam pemikiran Tan Malaka yang tertuang dalam Madilog pemikirannya mengarah pada sebuah paham yang dianggapnya universal, namun Tan Malaka mampu melihat gejala jaman, dan penglihatan Tan Malaka ini jauh lebih dulu dibandingkan Sukarno.

Syahdan di suatu pagi, beberapa orang menemui Jenderal Sudirman di kota Yogyakarta, orang-orang ini adalah anak muda yang terpengaruh paham Tan Malaka dan banyak bergerak di kota Jakarta. Beberapa hari sebelumnya mereka berangkat dari Jakarta yang sudah dikuasai NICA. Sudirman sendiri baru datang dari Yogya setelah mengunjungi beberapa wilayah di sekitar Jawa Tengah. Sudirman tertarik dengan gagasan Tan Malaka, baginya “Perang harus diselesaikan sampai ke akar-akarnya’ namun apa daya, Sudirman ini hanyalah seorang guru SD yang tingkat intelektualitasnya jauh di bawah jago-jago militer lulusan Akmil Breda Bandung macam AH Nasution atau TB Simatupang.

Dan Sudirman bukan jenis orang yang mau menang sendiri, ia pendengar...ia merasakan. Sementara di lingkungan dalam Istana, Nasution dan Simatupang dengan intens mengeluarkan gagasan untuk memperpendek perang, mengajukan sebuah tawaran damai dengan Belanda lewat fasilitas Amerika Serikat dan memanfaatkan situasi perang dingin, dimana kelompok Nasution paham bahwa AS akan sangat marah bila Moskow buka cabang di Jawa. Di sinilah Sudirman menemui dilema, sementara Tan Malaka menghadapi dilemanya sendiri, ia pertama-tama sudah gagal menduduki kursi utama RI, karena memang Sukarno lebih dipercaya rakyat, dan jadi selebritis utama sejak Jepang menduduki Indonesia.

Kedua, Tan Malaka merasa ditelikung oleh Sutan Sjahrir tokoh yang pernah ingin dipengaruhinya untuk merebut kekuasaan Sukarno, namun yang terjadi Sjahrir malah membuat ‘kudeta sunyi’ dengan membentuk pos ‘Perdana Menteri’ dari sebuah sistem konstitusional yang tidak mengenal istilah Perdana Menteri. Disini Tan Malaka menemukan titik frustrasinya. Akhirnya sebuah kesepakatan bersama lahir di Den Haag tahun 1949, dengan bayaran diam-diam dibunuhnya Tan Malaka, di sebuah desa di daerah Kediri, Jawa Timur....

Kematian Tan Malaka kelak menjadi sebuah perlambatan sejarah, karena kesadaran kemerdekaan Indonesia 100% baru dimulai tahun 1960 tatkala Sukarno dengan gemilang menemukan sebuah idee revolusinya, yang kemudian juga dihancurkan oleh sebuah konspirasi paling rumit pada abad ini, Konspirasi Gerakan Untung 1965.

Sejarah selalu mengenalkan orang-orang kalah, di sanalah berdiri seuntai cerita tentang manusia yang berdiri pada pojok sejarah. Apakah sejarah selalu seperti cerita kembang melati Aryo Penangsang, sebagai perayaan khusus kemenangan Danang Sutowidjojo? Kembang melati yang diuntai pada keris mempelai pria dalam adat Jawa Mataraman, adalah simbol dari pengharapan keberanian seorang lelaki Jawa menghadapi kehidupan, ini disamakan dengan usus Aryo Penangsang yang dibiarkan terburai saat berkelahi dengan Danang Sutowidjojo.

Namun, keberanian tidak pernah dipandang sebagai keberanian, keberanian hanyalah soal bagaimana kita memandang sesuatu dari pengalaman psikologis seseorang, masyarakat bahkan bentukan sejarah. Orang-orang Blora tidak pernah mau menggunakan adat melati yang diuntai pada pinggir keris, ini sama artinya penghinaan pada Aryo Penangsang, bagi mereka itu adalah adat Jawa Mataraman, sebuah kekuasaan yang telah menghancurkan kelanggengan sebuah trah, sebuah dinasti. Keberanian adalah sebuah persepsi? Lalu dimana sejarah diletakkan pada persepsinya?

Sahibul Hikayat, tak lama setelah kejadian Prambanan dan pemberontakan PKI di beberapa tempat tahun 1926/27 terhadap pemerintahan kolonial, beribu-ribu orang ditangkap, diantaranya dibuang ke Digoel. Salah seorang yang dibuang ke Digoel adalah Kyai Dasuki. Kyai ini kyai sakti dari Solo dan namanya sudah sangat terkenal. Dia pulang dari Digoel dengan gagah, tak lama kemudian Jepang masuk.

Saat dalam perjalanan pulang dari Surabaya ke Semarang, ia menumpang kereta api. Kebetulan di tengah jalan saat kereta itu berangkat ada bisik-bisik bahwa di sebuah pos akan dilakukan pemeriksaan militer yang dilakukan oleh Kempetai. Sudah jamak kiranya pemeriksaan itu diiringi dengan perampasan barang berharga. Kyai Dasuki menyuruh orang-orang menaruh tas, koper, peti dan barang bawaan berharga ini untuk ditaruh di atas bangku dan ditumpuk, ia lalu duduk diatasnya. Dengan kesaktian yang ia miliki Kyai Dasuki menghilangkan penglihatan atas barang-barang itu. Itulah cerita legenda yang banyak diceritakan orang-orang tua jaman dulu. Kyai Dasuki adalah seorang yang baik, berjiwa sosial, dan senang mengajari ngaji.

Namun pilihan politiknya adalah Komunis. Ia mempunyai anak kandung lelaki yang sangat pintar, kita mengenalnya sebagai Profesor Baiquni, ahli atom Indonesia yang namanya sangat sohor di kalangan ilmuwan internasional tapi diluar itu (saya membaca di majalah Tempo) Kyai inilah yang menikahkan Aidit dengan dokter Soetanti. Setelah geger Gestapu 1965, Kyai Dasuki menghilang....seorang baik telah hilang, dilenyapkan oleh sebuah rezim yang kelak membangkrutkan Indonesia...

Een Toch Sejarah tidak akan berhenti, seperti ucapan Bung Karno ketika dia mengunjungi museum di Mexico City. Si Bung Bercerita “Disana ada tulisan ...Sekarang kita telah meninggalkan gedung museum, gedung yang berisi cerita sejarah...namun kita tidak akan pernah meninggalkan sejarah, karena sejarah akan terus bergerak selama kehidupan ada di muka bumi” ya sejarah akan terus bergerak dan mempunyai cerita-cerita baru.
(Anton DH Nugrahanto, 2008)