Jalan Alternatif Menuju Riau, membangun Sumbar dari Pinggir Limapuluh Kota
Oleh: Feni Efendi
Limapuluh Kota,Salingkaluak.com,- Wajah perhubungan di Sumatera Barat bagian timur hari ini ibarat sebuah gedung megah yang hanya memiliki satu pintu keluar-masuk. Pintu itu bernama Kelok Sembilan. Di baliknya, denyut nadi ekonomi antara Ranah Minang dan Bumi Lancang Kuning bergantung sepenuhnya pada satu aspal yang meliuk di antara tebing granit Pangkalan. Namun, di balik kemegahan konstruksi layangnya, tersimpan kerawanan yang nyata: sebuah ketergantungan tunggal yang sewaktu-waktu bisa lumpuh oleh amuk alam.
Sejarah mencatat, setiap kali longsor menghantam Koto Alam atau banjir merendam Pangkalan, Sumatera Barat seolah terisolasi dari tetangganya. Pasokan pangan terhambat, harga-harga di Pekanbaru melonjak, dan mobilitas warga terhenti total. Di sinilah urgensi memikirkan "ban serep" konektivitas—sebuah sistem cadangan yang tidak hanya sekadar jalur alternatif, tetapi juga jaring pengaman ekonomi kerakyatan.
Gagasan untuk menembuskan jalan-jalan alternatif di pedalaman Kabupaten Lima Puluh Kota bukanlah sekadar angan-angan teknis. Rute yang menghubungkan Mungka ke Bukik Sugak di Talang Maur, hingga menembus peradaban batu menhir di Maek melewati Nenan menuju Gelugur di Kapur IX, adalah sebuah visi kedaulatan pangan. Begitu pula rute Batu Balang menuju Lipek Kain melalui Buluah Kasok terus ke Pangkalan Kapeh dan Kuntu. Membuka jalur-jalur ini berarti menghidupkan kembali "urat nadi yang tersumbat" di nagari-nagari pinggiran. Petani gambir dan karet di pelosok tidak lagi harus bertaruh dengan ongkos angkut yang mencekik akibat jauhnya memutar ke jalur utama.
Namun, darat saja tidak cukup. Dalam diskursus mitigasi bencana modern, Sumatera Barat memerlukan "benteng di dataran tinggi". Di sinilah eks-Bandara Piobang menemukan relevansinya kembali. Menghidupkan Piobang sebagai bandara perintis bukan hanya soal romantisme sejarah era PDRI atau pendaratan Bung Hatta di masa lalu. Lebih dari itu, ini adalah soal logika keselamatan.
Ketika Bandara Internasional Minangkabau (BIM) yang berada di bibir pantai dihantui ancaman megathrust dan tsunami, kita memerlukan pangkalan udara alternatif yang aman di daratan tinggi. Piobang, dengan tapak landasan yang sudah ada, adalah aset negara yang siap dikonversi menjadi hub logistik darurat. Aktifnya Piobang akan memastikan bahwa bantuan dan evakuasi udara tetap bisa berjalan meski pesisir barat sedang lumpuh.
Tentu, membangun jalan tol tetaplah penting sebagai proyek akselerasi jangka panjang. Namun, tol adalah proyek padat modal yang membutuhkan napas panjang dalam penyelesaian lahan dan anggaran. Sementara itu, rakyat di nagari-nagari butuh solusi hari ini.
Membangun jalur alternatif darat dan merevitalisasi bandara perintis adalah langkah paling rasional yang bisa dilakukan pemerintah saat ini. Ia lebih murah, menyentuh langsung ekonomi di tingkat akar rumput, dan secara otomatis memperkuat pertahanan daerah.
Sudah saatnya kita berhenti bertaruh pada satu pintu. Luak Limo Puluah harus memiliki banyak jendela akses agar aliran ekonomi tidak hanya menumpuk di pusat, tapi juga mengalir hingga ke batas wilayah. Tanpa keberanian membuka jalur-jalur baru ini, kita hanya sedang menunggu waktu sampai pintu utama itu benar-benar terkunci oleh bencana, dan kita kembali terperangkap dalam isolasi yang seharusnya bisa kita cegah sejak dini.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang menetap di Payakumbuh.
