HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Akses Gedung Neurologi RSUD Disorot, Publik Sangka Proyek Belum Rampung meski Sudah Dipakai Penuh

 


TANAH DATAR, Salingkaluak.com — Kondisi akses menuju gedung neurologi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. M. Ali Hanafiah menjadi sorotan publik. Pasalnya, di tengah operasional gedung yang telah berjalan penuh untuk pelayanan dan perawatan pasien, sebagian jalur penghubung ke gedung tersebut masih tampak berupa lantai coran kasar tanpa keramik maupun pelapis permanen.

Pantauan di lokasi menunjukkan, permukaan jalur tersebut terlihat belum rata di sejumlah titik. Kondisi ini memunculkan kesan seolah pengerjaan gedung belum sepenuhnya selesai, meski aktivitas pelayanan medis di dalam gedung berlangsung normal.

Sorotan publik muncul karena akses tersebut berada di lingkungan rumah sakit yang setiap hari dilalui pasien, keluarga pasien, hingga tenaga kesehatan. Sejumlah pengunjung pun mempertanyakan kelayakan tampilan jalur penghubung yang dinilai belum mencerminkan fasilitas rumah sakit yang sepenuhnya rampung.

“Sekilas terlihat seperti proyek yang belum selesai,” ujar salah seorang pengunjung.

Menanggapi hal itu, pihak RSUD Prof. Dr. M. Ali Hanafiah membantah anggapan bahwa pembangunan gedung neurologi terbengkalai atau mengalami keterlambatan pengerjaan. Rumah sakit menegaskan, kondisi lantai coran kasar pada jalur tersebut memang sudah sesuai dengan desain dan perencanaan awal proyek.

Kepala Bidang Penunjang RSUD, Afrizal, Kamis (8/5/2026), menjelaskan bahwa akses utama menuju lantai dua dan tiga gedung neurologi sebenarnya menggunakan lift. Sementara jalur dengan lantai coran kasar itu disiapkan sebagai akses alternatif jika lift tidak dapat digunakan.

“Gedung neurologi kita gunakan, sebetulnya kita punya akses lift ke lantai dua dan tiga. Itu pun adalah alternatif kalau lift mati dan memang disengaja sesuai RAB dari awal sampai akhir memang seperti itu,” ujar Afrizal saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Ia menambahkan, pemilihan desain lantai coran kasar dilakukan dengan pertimbangan aspek keselamatan, agar permukaan tidak licin saat dilalui pengguna.

“Walaupun lantai coran kasar seperti itu dinyatakan aman dilalui pasien, apalagi cuma digunakan sewaktu-waktu saja,” katanya.

Menurut Afrizal, pembangunan gedung neurologi telah melalui proses perencanaan teknis dan pengawasan berlapis, melibatkan perencana, kontraktor, pengawas, serta tim teknis terkait. Karena itu, ia memastikan kondisi tersebut bukanlah bentuk pekerjaan yang belum selesai, melainkan bagian dari spesifikasi yang telah ditetapkan sejak awal.

“Kalau ternyata tidak aman tentu bisa dituntut perencanaannya. Jadi semuanya sudah melalui gambar, biaya, dilaksanakan kontraktor dan diawasi pengawas,” jelasnya.

Pihak rumah sakit juga menyebut hingga saat ini belum menerima keluhan resmi dari pasien maupun keluarga pasien terkait kondisi akses tersebut.

Meski demikian, tampilan jalur penghubung itu tetap menjadi perhatian masyarakat. Bagi sebagian publik, fasilitas rumah sakit tidak hanya dinilai dari kualitas layanan medis, tetapi juga dari kesiapan, kenyamanan, dan tampilan akses yang digunakan setiap hari oleh pasien dan pengunjung.

Perbedaan antara penjelasan teknis pihak rumah sakit dan persepsi visual masyarakat inilah yang kemudian memunculkan sorotan. Di satu sisi, RSUD memastikan jalur tersebut aman dan telah sesuai perencanaan. Namun di sisi lain, kondisi fisik yang tampak belum dilapisi secara permanen menimbulkan kesan bahwa proyek gedung belum sepenuhnya tuntas.

Dalam konteks pelayanan publik, terutama di fasilitas kesehatan, aspek fungsional dan persepsi kenyamanan menjadi dua hal yang sama-sama penting. Sebab, kepercayaan masyarakat terhadap mutu layanan juga kerap dibentuk dari kondisi sarana dan prasarana yang mereka lihat secara langsung. (Tim)