Dosen PPNP Kembangkan Teknologi Pengeringan Kopi Ceri Berbasis Oven Multisensor
Limapuluh Kota,Salingkaluak.Com,- Pengeringan kopi ceri menjadi salah satu tahapan penting dalam menjaga mutu kopi. Melalui penelitian terapan yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tahun 2026, tim dosen Program Studi Teknologi Pangan, Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP), mengembangkan metode pengeringan berbasis oven multisensor dengan pengendalian suhu bertingkat dan pemantauan kondisi pengeringan secara real-time.
Penelitian ini diketuai oleh Prof. Dr. Rince Alfia Fadri, bersama anggota tim Fidela Violalita dan Henny Fitri Yanti, yang merupakan dosen Program Studi Teknologi Pangan, Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh.
Kopi tidak hanya ditentukan mutunya saat dipanen dan diolah, tetapi juga dari bagaimana proses pascapanen dilakukan. Salah satu tahapan yang sangat menentukan adalah pengeringan. Buah kopi ceri yang masih memiliki kadar air tinggi perlu dikeringkan secara tepat agar aman disimpan dan tidak mudah mengalami penurunan mutu.
Persoalannya, pengeringan kopi secara mekanis tidak selalu berlangsung seragam. Pengendalian yang hanya mengandalkan suhu ruang pengering pada satu titik dapat menyebabkan perbedaan kondisi antara bagian bawah, tengah, dan atas ruang pengering. Kondisi tersebut berpotensi membuat proses pengeringan kurang merata dan penggunaan energi menjadi kurang efisien. Pemberian suhu tinggi secara langsung pada tahap awal juga berisiko memengaruhi kualitas bahan.
Menjawab persoalan tersebut, tim peneliti PPNP mengembangkan metode pengeringan buah kopi ceri segar menggunakan oven multisensor dengan sistem pengendalian suhu bertingkat. Penelitian terapan ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tahun 2026.
Tiga Tahap Pengeringan
Metode yang dikembangkan menggunakan tiga tahapan suhu. Buah kopi ceri segar dengan kadar air awal sekitar 55–65 persen basis basah terlebih dahulu dikeringkan pada suhu 35°C selama enam jam. Tahap ini ditujukan untuk mengurangi kadar air permukaan secara perlahan.
Selanjutnya, suhu dinaikkan menjadi 45°C selama 12–18 jam. Pada tahap kedua ini, proses pengeringan diarahkan untuk menurunkan kadar air buah hingga kisaran 20–25 persen.
Pada tahap terakhir, suhu dinaikkan menjadi 55–60°C selama 6–10 jam hingga kadar air akhir mencapai target 10–12 persen basis basah. Secara keseluruhan, proses pengeringan berlangsung sekitar 24–36 jam, bergantung pada kondisi kadar air awal dan densitas buah kopi yang dikeringkan.
Pendekatan bertahap tersebut menjadi salah satu karakter utama teknologi yang dikembangkan. Alih-alih memberikan suhu tinggi sejak awal, proses dimulai dengan suhu rendah kemudian meningkat secara bertahap sesuai kebutuhan pengeringan.
Tidak Hanya Mengukur Suhu
Keunggulan lain dari teknologi ini terletak pada sistem multisensornya. Oven dilengkapi sedikitnya tiga sensor suhu tipe-K dan tiga sensor kelembapan relatif yang ditempatkan pada bagian bawah, tengah, dan atas ruang pengering. Selain itu, terdapat sensor untuk memantau laju aliran udara serta sensor konsumsi energi listrik.
Dengan konfigurasi tersebut, kondisi di dalam ruang pengering dapat dipantau secara lebih menyeluruh. Data suhu, kelembapan relatif, aliran udara, dan konsumsi energi direkam secara otomatis menggunakan sistem data logger. Interval pencatatan dapat diatur antara 1 hingga 3.600 detik dan data disimpan dalam kartu MicroSD dalam format spreadsheet.
Bagi peneliti dan operator, pencatatan otomatis ini tidak sekadar menjadi dokumentasi. Data tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi proses pengeringan, termasuk efisiensi termal dan karakteristik proses, sekaligus menjadi dasar untuk mengulang kondisi pengeringan yang dinilai baik pada batch berikutnya.
Menjaga Mutu dan Mendukung Efisiensi
Pengeringan yang terkendali diharapkan dapat memberikan sejumlah manfaat. Pengaturan suhu secara bertahap membantu mengurangi risiko kerusakan mutu yang dapat terjadi apabila bahan langsung terpapar suhu tinggi pada awal proses. Pemantauan pada beberapa titik juga ditujukan untuk membantu menjaga keseragaman kondisi pengeringan di dalam ruang oven.
Dari sisi energi, sistem memantau konsumsi listrik elemen pemanas dan blower. Informasi tersebut memberikan gambaran mengenai kebutuhan energi selama proses sehingga efisiensi penggunaan energi dapat dievaluasi berdasarkan data aktual.
Teknologi ini dirancang untuk oven dengan kapasitas hingga 50 kilogram per batch dan menggunakan tujuh tray pengering berbahan aluminium perforated untuk mendukung sirkulasi udara panas melewati bahan.
Dari Laboratorium Menuju Penerapan
Pengembangan metode pengeringan ini menunjukkan bagaimana teknologi sensor dan pengendalian otomatis dapat diterapkan pada tahapan pascapanen komoditas perkebunan. Selama ini, pengeringan sering dipandang sebagai proses sederhana berupa pemberian panas untuk mengurangi kadar air. Padahal, distribusi suhu, kelembapan, aliran udara, durasi, dan konsumsi energi merupakan parameter yang saling berkaitan.
Melalui pemantauan multisensor, proses tersebut dapat menghasilkan rekaman data yang lebih lengkap. Hal ini membuka peluang bagi pengembangan proses pengeringan yang lebih terukur, konsisten, dan dapat direplikasi.
Penelitian ini sekaligus memperlihatkan pentingnya inovasi teknologi pascapanen untuk mendukung peningkatan mutu komoditas kopi. Dengan proses yang lebih terkendali, teknologi pengeringan tidak hanya berfungsi menurunkan kadar air, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas produk dan meningkatkan efisiensi proses.
Bagi PPNP, penelitian terapan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi vokasi dalam menghasilkan inovasi yang berorientasi pada kebutuhan nyata di sektor pertanian dan agroindustri, khususnya dalam pengembangan teknologi pascapanen komoditas kopi.
Penelitian mengenai metode pengeringan buah kopi ceri menggunakan oven multisensor dengan pengendalian suhu bertingkat dan pemantauan kondisi pengeringan secara real-time ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tahun 2026 dan dilaksanakan oleh tim dosen Program Studi Teknologi Pangan, Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, yang terdiri atas Prof. Dr. Rince Alfia ,Fadri sebagai ketua peneliti serta Fidela Violalita dan Henny Fitri Yanti sebagai anggota peneliti.


